Archive for the ‘Akuntansi’ Category

sumber : http://acch.kpk.go.id/uu-no-8-tahun-2010

articleada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil tindak pidananya susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah.

 

Karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam konsep antipencucian uang, pelaku dan hasil tindak pidana dapat diketahui melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak pidana tersebut dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak. Apabila Harta Kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh pelaku atau organisasi kejahatan dapat disita atau dirampas, dengan sendirinya dapat menurunkan tingkat kriminalitas. Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana.

Dalam perkembangannya, tindak pidana Pencucian Uang semakin kompleks, melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan modus yang semakin variatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan, bahkan telah merambah ke berbagai sektor.
Bahwa pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum, serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana, maka DPR RI dan Presiden RI menyusun dan menetapkan UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Berikut ini saya untitledberikan alur pelaporan SPJ BOPTN tahun 2013, menurut versi yg saya dapat, semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

\>> TATACARA PERTANGGUNG JAWABAN KEUANGAN DANA BOPTN 2013

 

images5Berikut ini adalah tatacara penyusunan laporan keuangan Untuk Pengelolaan Keuangan Berbadan BLU, Semoga Bermanfaat..

TATACARA PENYUSUAN LAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

Pentingnya peranan audit internal sekarang ini semakin dirasakan oleh berbagai aktivitas organisasi baik organisasi profit maupun organisasi non profit, baik berbentuk perusahaan maupun perguruan tinggi, dengan semakin canggih nya teknologi dalam mengolah data keuangan maka dibutuhkan pula pengawasan yang semakin canggih di bidang sistem yang akan di gunakan untuk melakukan pemeriksaan dibidang keuangan.

oleh karena itulah munculnya pemeriksaan keuangan berbasis IT, untuk mendukung kemajuan teknologi bidang keuangan, dengan adanya pemeriksaan keuangan berbasis IT maka akan mempermudah proses pemeriksaan serta mempercepat dalam melakukan tahap2 dalam pemeriksaan keuangan.

Berikut adalah Skema sistem yg saya buat.

sumber : http://www.bpk.go.id/web/?p=13918

Wakil  Ketua BPK Hasan Bisri mengatakan, kunci untuk memperoleh opini laporan keuangan lebih baik ada lima. “Kunci pertama adalah komitmen, kenali masalah, tunjuk orang-orang yang harus diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu, buat jadwal (action plan), dan yang terakhir dikontrol secara periodik. Apabila cara seperti ini dilakukan, pada umumnya berhasil,” jelas Hasan Bisri.

Pernyataan itu dilontarkan dalam kegiatan sosialisasi bertema “Pemeriksaan BPK: Mengawal Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Negara” yang diadakan BPK RI, pada Senin, 19 November 2012. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan public awareness BPK RI, yang ditujukan untuk para pemangku kepentingan di daerah khususnya Pemerintah Daerah dan Tokoh Masyarakat. Selain Wakil Ketua BPK RI Hasan Bisri, bertindak sebagai pembicara pada kegiatan ini adalah Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Zulkieflimansyah. Acara digelar di Sekolah Tinggi Teknologi Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Gubernur NTB, Zaenul Majdi, Kepala Perwakilan BPK RI Provinsi NTB, Eldy Mustafa, Bupati Sumbawa, Jamaluddin Malik, pimpinan DPRD Provinsi NTB, Kepala Biro Humas dan Luar Negeri BPK RI Bahtiar Arif, para Pimpinan Instansi Vertikal Provinsi NTB, serta para pejabat di lingkungan Pemda NTB dan BPK RI.

Pada kesempatan ini, Wakil Ketua BPK RI juga menjelaskan antara lain tentang landasan hukum, kedudukan, sumber daya manusia, jenis pemeriksaan, opini, tugas, fungsi dan kewenangan BPK RI. Selain itu Wakil Ketua BPK RI mengungkapkan terkesan dengan ide pembangunan STTS mengingat lokasi yang berada di pegunungan. “Biasanya ide besar selalu tidak masuk akal dan aneh di pikiran orang lain, saya berharap pelaksanaan pendidikan di STTS nantinya berjalan dengan lancar,” ungkap Hasan Bisri.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI, membahas megenai peran BPK dalam mewujudkan kualitas anggaran daerah serta pengawasan yang dilakukan oleh DPR RI. DPR RI memberikan perhatian yang kuat terhadap peningkatan kapasitas SDM dan perbaikan sistem, mekanisme, dan standar pemeriksaan BPK. Terkait  pembangunan STTS yang sedang berjalan, beliau berharap sekolah ini bisa terealisasi serta berguna bagi masyarakat Sumbawa. “Mudah-mudahan institusi yang penting buat kita ini, bisa hadir disini bukan hanya untuk masyarakat Sumbawa tetapi untuk masyarakat NTB dan Indonesia pada umumnya” ungkap Zulkieflimansyah.

Senada dengan Zulkieflimansyah, Gubernur NTB dalam sambutannya mengemukakan bahwa, sangat terkesan dengan acara sosialisasi ini, karena dapat memberikan pengetahuan tentang BPK RI dan bermanfaat bagi Sumbawa dan NTB pada umumya. “Saya punya optimisme, Sumbawa yang kita cintai ini akan jauh lebih maju pada masa yang akan datang,” tegas Zaenul Majdi.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BPK RI Provinsi NTB melaporkan bahwa BPK Perwakilan NTB telah memberikan opini kepada 11 entitas, dengan berbagai opini sesuai dengan gambaran dan fakta pengelolaan serta pertanggung jawaban keuangan daerah. BPK memberikan apresiasi atas usaha perbaikan yang dilakukan oleh pemda yang semakin besar. ”Besar harapan kami bahwa rencana aksi untuk perbaikan tersebut dilaksanakan, sehingga LKPD tahun mendatang terjadi perbaikan yang signifikan,” tambah Eldy Mustafa.

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/10/cara-mengelola-arsip-akuntansi-agar-rapi-dan-efektif/#comment-1483

Bagi yang sudah bekerja, pasti pernah dipusingkan oleh urusan arsip. Khususnya di akuntansi, mengelola arsip adalah tantangan tersendiri—thus butuh keterampilan (dan kecerdasan) khusus. Bagaimana caranya mengelola arsip akuntansi agar menjadi rapi dan efektif? Itu yang ingin saya share lewat tulisan ini.

Arsip, mungkin terdengar spele. Sesungguhnya sangat vital, khususnya dalam pekerjaan akuntansi (tidak tahu di wilayah lain)—bahkan bisa berpengaruh langsung terhadap kinerja kita.

 

Mengapa Pengelolaan Arsip Akuntansi Penting, Seberapa Penting?

Ya, saya tahu semua kantor juga punya dokumen dan arsip. Tetapi dokumen dan arsip di akuntansi dan keuangan sedikit agak berbeda—sehingga diperlukan pengelolaan yang khusus.

Apa istimewa (atau kekhususan) arsip akuntansi dan keuangan—jika dibandingkan dengan arsip-arisp lain?

Arsip akuntansi bersifat lebih sensitif dibandingkan dengan arsip-arsip lainnya. Sensitif karena beberapa alasan berikut ini:

1. Arsip akuntansi adalah arsip transaksi uang (bersifat monetary) – Meskipun tidak semua transaksi yang dicatat dalam akuntansi berupa kas (uang), semuanya akan berujung pada uang, setidak-tidaknya bisa dikonversikan ke dalam nilai uang. Artinya bisa menimbulkan kerugian langsung dalam bentuk uang jika salah kelola.

Misalnya: Berdasarkan nota yang diterima, anda mengakui adanya pembelian barang persediaan di Toko ABC sebesar Rp 50,000,000. Meskipun tidak langsung dibayar saat itu juga, karena pembelian kredit, tetap saja suatu saat nanti—bila sudah jatuh tempo—harus dibayar dalam bentuk kas (uang). Dan barang yang anda akui dalam pembelian tersebut juga bisa dikonversikan menjadi uang (persediaan dijual).

2. Arsip akuntansi menyangkut hak dan kewajiban pihak lain – Nyaris semua transaksi yang dicatat dan dilaporkan, dalam proses akuntansi, menyangkut hak dan kewajiban pihak lain. Artinya, kesalahan dalam proses pencatatan dan penyajian laporan keuangan berdampak langsung terhadap hak-dan-kewajiban pihak lain. Jika terjadi perselisihan (ketidaksepakatan), di kemudian hari, maka satu-satunya yang menjadi dasar dalam menyelesaikan masalah adalah arsip yang berupa bukti transaksi.

Misalnya: Melanjutkan contoh di atas. Pengakuan pembelian secara kredit, artinya: perusahaan berhak menerima barang di satu sisinya, dan berkwajiban untuk membayar utang di sisi lainnya. Di sisi lainnya, Toko ABC berhak untuk menerima pembayaran (bila utang sudah jatuh tempo) dan berkewajiban untuk menyerahkan barang yang dibeli.

3. Akuntansi hanya mengakui transaksi yang didukung oleh bukti – Karena pertimbangan pertama dan kedua di atas, maka akuntansi hanya mengakui (mencatat) transaksi-transaksi yang didukung oleh bukti transaksi (entah itu dalam bentuk nota, invoice, akte sewa, dan lain sebagainya)—yang selanjutnya diarsipkan. Artinya setiap angka yang ada di “buku besar” dan ‘laporan keuangan” harus didukung oleh arsip bukti transaksi. Jika dibalik maka, setiap 1 lembar arsip adalah bukti transaksi—yang jika hilang akan membuat pengakuan atas transaksi tersebut menjadi tidak valid (sah) secara akuntansi. Ini akan sangat terasa ketika menjalani proses audit—terutama oleh pihak eksternal (auditor eksternal atau pajak).

Misalnya: Masih menggunakan contoh yang sama. Atas pembelian persediaan tersebut anda mengakui utang sebesar Rp 50,000,000, misalnya. Angka tersebut dikatakan valid secara akuntansi hanya bila didukung oleh nota pembelian (invoices) yang menunjukan angka yang sama, yaitu Rp 50 juta.

4. Diwajibkan oleh aturan (perpajakan) - Peraturan perpajakan secara tegas mengatur bahwa perusahaan (selaku wajib pajak) wajib menyimpan arsip data keuangan yang dijadikan dasar dalam penyusunan laporan keuangan fiskal yang disertakan dalam surat pemberitahuan pajak tahunan.

Dari keempat alasan di atas jelas terlihat betapa pentingnya arsip dalam pekerjaan akuntansi. Sayangnya saya masih sering menemukan arsip staf accounting yang tidak rapi atau tidak efektif, yang berantakan mirip kapal pecah juga ada.

 

Apa Penyebab Arsip Tidak Rapi?

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa mengelola arsip adalah pekerjaan yang super-sulit, tetapi juga tidak mau menyepelekan. Pengalaman saya pribadi menunjukan:

  • Begitu banyak kasus sederhana menjadi pelik, tak terpecahkan, gara-gara arsip hilang.
  • Pekerjaan akuntansi yang mestinya bisa dirampungkan dengan cepat, menjadi lama—bahkan mungkin tak kunjung selesai—gara-gara arsip yang sulit ditemukan.
  • Di akhir hari kerja, saya masih sering menemukan meja-meja yang ditimbuni oleh tumpukan-tumpukan kertas. Bahkan tidak sedikit kertas yang ‘ngendon’ di dalam laci dan kolong meja berbulan-bulan.

Saya percaya akuntan dan staff accounting tahu persis betapa pentingnya arsip yang rapi, dalam pekerjaan akuntansi dan keuangan. Arsip berantakan tidak timbul begitu saja, melainkan ada penyebabnya.

Sejauh yang pernah saya lihat, penyebab utamanya adalah overload pekerjaan utama—entah karena rasio ‘volume pekerjaan’ versus ‘jumlah-staf’ yang tidak seimbang; atau karena kekurangcakapan dalam mengelola pekerjaan sehingga menjadi overload—yang pada akhirnya membuat proses pengarsipan menjadi terabaikan atau dilakukan sekedarnya saja.

Arsip tidak rapi, jika tidak ditangani secepatnya bisa berpengaruh buruk terhadap kinerja.

 

Arsip Yang Tidak Rapi Berpengaruh Buruk Terhadap Kinerja

Disadari atau tidak (dalam banyak kasus seringkali tidak disadari), arsip yang berantakan berpengaruh buruk terhadap kinerja—individu atau team—perlahan namun pasti, bahkan bisa menjadi sangat buruk. Saya menyebut ini dengan istilah “fenomena spiral menurun”. Konkretnya, bisa saya ilustrasikan dengan contoh kasus sbb:

Awalnya, Mira (seorang staf accounting) dilanda overload—volume pekerjaannya lebih banyak dibandingkan kemampuannya menyelesaikan. Akibatnya, Mira tidak sempat menata arsip.

Dua bulan berlalu, arsip kian bertebaran dimana-mana—hingga Mira sendiri sudah tidak tahu lagi arsip apa disimpan dimana. Dampak yang paling dirasakan setiap kali atasan meminta bukti transaksi, Mira terpaksa menghentikan pekerjaan utamanya.

Karena seringnya menghentikan pekerjaan utama (saat mencari arsip), laporan yang dibuat oleh Mira menjadi sering tidak tepat-waktu. Kualitas laporannyapun kian lama kian tidak akurat—semakin sering melakukan kesalahan. Akibat langsung dari ini, atasannya jadi sering marah-marah.

Karena sering mendapat teguran, Mira jadi sering merasa suntuk. Semakin suntuk, semakin Mira tidak bisa fokus, sehingga kinerjanya terus merosot. Karena kinerja merosot, saat penilaian kinerja tiba, hasil review menunjuka score yang buruk dan tidak memperoleh kenaikan gaji.

Mendapati kenyataan pahit itu, Mira makin meradang. Nota-pun menjadi semakin tidak pernah diurus—hingga kian lama kian menggunung. Saking penuhnya meja kerja, Mira sampai kesulitan untuk mencari bukti transaksi di hari yang sama—yang mestinya masih mudah untuk ditemukan. Tentu atasan Mira menjadi kian sering marah-marah. Semakin sering kena marah, Mira semakin kecewa, semakin tidak berinisiatif, semakin tidak peduli, kinerjanya semakin ngawur. Akhir cerita ini bisa ditebak. Ya, Mira dikeluarkan (di PHK).

Nah, itu yang saya sebut dengan istilah “fenomena spiral menurun”. Bukan hanya di wilayah kerja, fenomena yang sama bisa terjadi di setiap lini kehidupan. Misalnya:

  • Kehidupan pribadi – Karena diputusin pacar, jadi peminum alkohol, sering mabuk. Karena sering mabuk, maka menjadi nampak buruk di mata gadis-gadis, sehingga semakin dijauhi. Bahkan sahabat dekatpun menjauh satu-per-satu. Merasa diacuhkan dan kesepian, jadi frustrasi, lalu ngobat, dan seterusnya (silahkan dilanjutkan sendiri).
  • Kehidupan bisnis – Pengelolaan operasional perusahaan yang tidak efektif membuat kondisi keuangan perusahaan menjadi terganggu. Kondisi keuangan terganggu membuat pengusaha terpaksa mengurangi skala operasional perusahaan, mengurangi jumlah staf, mengurangi penggunaan fasilitas (mesin dan alat), akibatnya mutu produk yang dihasilkan memburuk, pasar semakin menyempit, respon pasar semakin buruk, kondisi keuangan semakin memburuk, dan setrusnya (silahkan dilanjutkan sendiri).

Celakanya, kebanyakan orang butuh waktu yang relative lama untuk menyadari fenomena spiral menurun ini—bahkan tak sedikit yang tidak pernah menyadarinya hingga makin terpuruk. Semoga itu tidak akan pernah terjadi pada kita.

 

Apakah Arsip Anda Tergolong Rapi dan Efektif?

Meungkin pertanyaan ini terkesan mengintimidasi, tapi maksud saya bukan begitu. Justru saya sangat berharap mudah-mudahan arsip anda super rapi dan efektif.

Sekedar sharing. Sepanjang karir saya (dengan beragam tingkat kecapakan dan karakter staff), hanya 2 kali pernah punya staf yang arsipnya sungguh-sungguh rapi dan efektif, yaitu: seorang Accounts Payable Accountant (wanita) dan seorang Accounting & Financial Manager (laki-laki)—yang tadinya seorang Chief Accountant lalu memperoleh promosi jabatan untuk menggantikan posisi saya.

Selain kedua staf itu, ada saja masalahnya di arsip:

  • Arsip rapi (tidak ada kertas di meja) TETAPI tidak efekif (butuh waktu lama untuk menemukan arsip yang saya inginkan).
  • Yang mejanya seperti kapal pecah sudah pasti tidak efektif—terutama ketika mencari arsip transaksi di periode berbeda.
  • Ada juga yang arsip fisiknya rapi dan efektif, sayang asip digitalnya yang berantakan. Tak sedikit juga yang sebaliknya.

Oke. Ada semacam persepi keliru yang lumrah beredar di dunia kerja—termasuk di akuntansi, yaitu: “Orang yang mejanya penuh kertas adalah orang yang produktif, selalu sibuk”. Saya tidak melihat itu ada korelasinya. Yang ada, menurut saya, meja seperti kapal pecah karena overload pekerjaan atau memang karakter orangnya yang berantakan.

Ada juga anggapan yang menyebutkan bahwa, “meja berantakan bukan berarti pekerjaannya berantakan”. Yang ini saya tidak bantah. Karena diantara staf yang mejanya selalu berantakan, tak sedikit yang pekerjaannya selalu tereksekusi dengan rapi dan tuntas. Hanya saja, sekalilagi hanya saja, khusus di accounting arsip adalah vital—tidak boleh dikompensasikan dengan hal lain.

Bagaimana saya tahu file staf rapi atau tidak?

Jujur saja, saya tidak pernah memeriksa file semua orang satu-per-satu. Kerapian dan keefektifan arsip bisa saya ketahui dari 2 hal:

1. Kondisi meja saat mereka meninggalkan kantor – Mereka yang arsipnya rapi, bisa dilihat dari rapi-atau-tidaknya meja mereka saat pulang kerja. Saya memiliki kebiasaan memeriksa meja staf setiap pulang kerja. Walaupun meja saya selalu tanpa kertas, saya tidak menuntut setiap staf melakukan hal yang sama, karena itu bukan hal yang mudah. Kondisi meja yang ideal menurut saya: ada file-tray dimana tersimpan 1-5 lembar file di dalamnya dan stationary secukupnya. Kertas ini saya identifikasi sebagai file atas ‘masalah-belum-tuntas-perlu-followup-di-hari-berikutnya’. Selebihnya meja harus bersih hingga ke laci—semua file tersimpan rapi di folder (bukan di atas meja atau di dalam laci), sebagai indikasi bahwa masalahnya sudah tertangani hingga tuntas.

2. Kecepatan menyediakan arsip – Arsip rapi itu penting. Meja bersih itu penting—untuk kenyamanan kerja. Tetapi arsip rapi dan meja bersih saja, tidak cukup. Arsip harus efektif—mudah ditemukan saat diperlukan. Kecepatan menemukan arsip adalah super-penting di dunia kerja manapun. Terlebih-lebih di accounting, aktivitas menyediakan data/informasi adalah bagian dari pekerjaan yang terjadi setiap hari (jika tidak setiap jam). Seseorang (staff atau manager) yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menemukan sebuah file, adalah sangat tidak efisien, tugas utamanya banyak terbengkalai dan ini buruk. Menemukan file hanya langkah awal, jauh lebih penting adalah menyelesaikan pekerjaan dan memecahkan masalah. Mereka yang arsipnya rapi dan efektif hanya butuh waktu:

  • 3 menit untuk menyediakan file transaksi di periode berjalan; atau
  • 6 menit untuk file transaksi di periode berbeda (sebelumnya).

Mengapa 3 menit untuk periode berjalan dan 6 menit untuk periode sebelumnya?

  • 1 menit untuk query data base (di computer), biasanya dengan menelusuri data transaksi di accounting software. Misalnya: saya minta file nota#665 dari supplier PT. ABC. Anda masuk ke modul ‘accounts payable” lalu search nota#665; atau masuk ke vendor (supplier) list, lalu search PT. ABC, temukan nota#665. Dapatkan nomor transaksinya. Ini hanya butuh waktu 1 menit.
  • 2 atau 5 menit untuk mencari file fisik di folder/cabinet. Dengan menggunakan nomor transaksi yang sudah anda temukan di file digital/data base, anda langsung tahu dimana letak arsip fisiknya. Jika arsip fisik rapi, maka anda hanya butuh waktu 2 menit untuk menemukan file di periode berjalan atau 5 menit untuk file di periode sebelumnya.

Lebih dari itu, sudah merupakan indikasi bahwa arsip (entah yang digital atau fisik) pasti tidak beres, alias tidak efektif, bisa jadi berantakan. Staf yang butuh waktu lebih dari 5 menit untuk menyediakan file, biasanya saya datangi ke mejanya—sekalian melihat kenapa dia butuh waktu selama itu. Dan bisa saya pastikan, arsipnya tidak rapi, tidak efektif.

Yang memerlukan data/informasi/file tidak selalu atasan, bisa jadi rekan kerja atau diri-sendiri, dan itu bisa terjadi beberapakali dalam satu hari kerja. Sehingga, sekalilagi, pengarsipan yang rapi dan efektif adalah super-penting di accounting.

Nah, jika anda sudah bekerja coba hitung, berapa menit waktu yang anda butuhkan untuk menyediakan arsip file (fisik)? Dari sana anda bisa nilai sendiri seberapa rapi dan efektif arsip anda. Jika tidak cukup rapi dan efektif, saya ada tips yang mungkin bisa anda implementasikan sendiri.

 

Cara Mengelola Arsip Agar Rapi dan Efektif

Bagi anda yang arsipnya sudah rapi dan efektif, saya yakin pekerjaan utama anda pastinya cukup lancar. Bagi yang belum, berikut adalah cara mengelola arsip akuntansi agar rapi dan efektif, yang saya bagi menjadi 2 kelompok:

A. Arsip Digital (di komputer)

Jika menggunakan software akuntansi tertentu, jumlah arsip digital anda pastinya tidak terlalu banyak—karena semua data tersimpan dalam satu file database yang tertata secara otomatis mengikuti setting software yang digunakan. Yang penting anda perhatikan adalah:

  • Kenali dan buat diri anda terbiasa/familiar terhadap interface (antar-muka) setiap modul yang anda butuhkan. Misal: jika anda A/P Accountant, maka kuasai interface modul A/P (dan modul-modul terkait) dengan baik, sehingga anda bisa melakukan aktivitas di sana dengan sangat cepat, termasuk aktivitas mencari transaksi tertentu—entah dengan melakukan ‘drill-down’ atau menggunakan fasilitas ‘search’. Jika ada fasilitas short-cut, biasakan untuk menggunakannya.
  • Selalu menyertakan nomor/referensi transkasi saat input data—entah itu berupa nomor invoice, nomor PO, nomor check, dan lain sebagainya. Ini penting untuk memudahkan proses pencarian nantinya. Rata-rata software akuntansi dewasa ini sudah mengenerate nomor kode transaksi referensi secara otomatis, tetapi anda masih perlu memasukan nomor referensi yang tercantum di file kertasnya ke dalam system. Misal: nomor invoice/nota, nomor PO, nomor check, dan lain sebagainya. Adakalanya nota yang anda terima tanpa nomor, anda bisa membuat nomor sendiri yang penting berurut dan uniq (tidak boleh sama antara satu transaksi dengan transaksi lainnya), tulis di atas file kertasnya, lalu input.
  • Input data transaksi dalam format yang logis dan konsisten. Ini penting untuk memudahkan anda melakukan pencarian nantinya. Khususnya di keterangan transaksi (‘description’) dan di field ‘notes’. Misalnya: Anda biasa memasukan kode item, nama barang, dan spesifikasi. Maka, gunakan susunan itu secara konsisten. Jika ada nomor referensi tertentu (misal: No surat jalan, nomor AWB/BL, No PEB, No PIB, payment term, dan lain sebagainya) yang bisa anda ikut sertakan, maka sertakan juga secara konsisten.

Jika anda masih menggunakan spreadsheet (Ms Excel misalnya), maka mengelola arsip digital menjadi sedikit lebih sulit dibandingkan software akuntansi. Dalam kondisi ini anda bisa mengadopsi cara di atas. Hanya saja anda masih perlu menata file dan folder (di Ms Explorer misalnya) dengan teratur dan konsisten. Berikut beberapa hal yang perlu anda perhatikan:

  • Beri nama folder yang khas mendeskripsikan isi file yang tersimpan di dalamnya. Misal: Jika isinya file/data sales invoice, maka beri nama “SALES INVOICE”.
  • Beri nama file yang khas (berisi penanda tertentu) yang bisa dikenali dengan mudah. Misalnya: dengan menyertakan nomor referensi dan tanggal invoice “Inv005-121015” untuk invoice nomor 005 tertanggal 15 Okt 2012.
  • Jangan pernah mencampuradukan beberapa jenis file berbeda dalam satu folder (misalnya: vendor dengan customer dengan fixed asset, dll)—sekali anda melakukannya, maka lama-lama isi folder anda akan seperti hutan belantara. Usahakan satu folder satu jenis file.

Itu hanya beberapa tips dan contoh. Anda bisa menggunakan cara anda sendiri. Yang paling penting, semua itu anda lakukan untuk memudahkan proses pencarian jika sewaktu-waktu anda atau orang lain butuh.

B. Arsip Fisik (di atas Kertas)

Sampai saat ini kita (di akuntansi) masih banyak menggunakan file/dokumen di atas kertas (bukti fisik) untuk setiap transaksi. File di atas kertas masih dianggap sebagai satu-satunya bukti transaksi yang sah oleh pihak lain (kantor pajak, bank, bea cukai, customer, vendor, termasuk auditor). Untuk itu, anda butuh cara mengelola arsip fisik agar rapi dan efektif.

Berikut adalah 2 teknik penyusunan arsip fisik yang paling lumrah digunakan:

Beradasarkan Nama customer dan Nama Vendor – Teknik ini adalah teknik paling klasik yang banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan yang masih mengandalkan arsip fisik sepenuhnya, biasanya UKM atau toko-toko kecil. File di simpan di dalam folder-folder yang diberi label nama vendor dan customer—tak peduli transaksi itu masuk kea kun mana di dalam journal. Di dalam folder, kemudia file di susun secara berurutan berdasarkan tanggal. Misalnya: Setiap nota dari toko ABC di simpan ke dalam folder yang diberi label “TOKO ABC”. Setiap nota tagihan/invoice ke PT. Rajawali disimpan dalam folder yang diberi label “PT. RAJAWALI”.

Berdasarkan Jenis Akun – Teknik ini termasuk cukup banyak diadopsi, bahkan mungkin paling banyak. File disimpan ke dalam folder-folder yang diberi label nama akun. Di dalam folder, kemudia file di susun secara berurutan berdasarkan tanggal transaksi. Misal: Semua transaksi “Utang” (accounts payable) disimpan di sebuah folder yang diberi label “Utang”. Semua transaksi yang berhubungan dengan “fixed asset” di dalam folder yang diberi label “FIXED ASSETS”. Semua file berhubungan dengan PPh disimpan di dalam folder yang diberi nama “PPh”.

Mana yang lebih efektif?

Tergantung dari cara orang-orang yang membutuhkan data/informasi berkomunikasi dengan anda. Misalnya:

  • Jika atasan anda biasanya minta arsip dengan mengatakan “Tolong kasi saya nota dari PT. XYZ nomor 225”, maka teknik pertama menjadi lebih efektif dibandingkan dengan teknik kedua, karena anda bisa langsung membuka folder “PT. XYZ”, lalu mencari nomor invoice yang diminta.
  • Jika atasan anda biasanya minta arsip dengan mengatakan ‘Tolong carikan saya nota pembelian pensil tanggal 10 oktober 2012”, maka teknik kedua menjadi lebih efektif, karena anda bisa langsung membuka folder “OFFICE SUPPLIES” lalu mencari tanggal yang dimaksud.

Hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah ketika yang membutuhkan informasi atau data adalah pihak luar, misalnya: auditor dari kantor pajak atau auditor eksternal. Mereka jelas tidak tahu nama vendor. Oleh karenanya, mereka pasti minta data/informasi dengan merujuk nomor transaksi (mungkin plus nama akun). Untuk situasi ini, tentunya teknik kedua lebih efektif.

Teknik mana yang anda gunakan/sukai?” mungkin ada yang ingin bertanya seperti itu.

Saya tidak menggunakan teknik pertama maupun kedua. Saya lebih suka teknik pengarsipan yang sederhana: File disimpan di folder-folder yang diberi label nomor transaksi (tanpa nama akun atau nama vendor/customer). Misalnya: Folder “000001 s/d 000525” berisi arsip transaksi nomor 000001 sampai dengan 000525. Konsekwensinya:

  • Semua staf harus sangat familiar dengan fitur-fitur yang ada dalam software akuntansi yang digunakan. Staf baru harus diberikan training penggunaan software, hingga terbiasa.
  • Setiap fitur, dalam software akuntansi yang digunakan harus tersetup lengkap—sehingga bisa menampung data/informasi sampai ketingkat yang paling detail. Misalnya: vendor register harus diisi lengkap.
  • Setiap fitur harus bertautan (linked) dan bisa drill-down ke fitur lain yang terkait—sehingga setiap data bisa ditelusuri dari berbagai fitur. Misal: fitur “Accounts Payable” harus terhubung dengan fitur “Vendor Register” dan “Receipt of Goods”—sehingga untuk mencari nomor invoice/nota tertentu bisa darimanapun diantara ketiga fitur tersebut.

Mengapa demikian? Sebab setiap pencarian arsip file dimulai dengan melakukan penelusuran di dalam data base software, baru kemudian dilanjutkan dengan pencarian arsip fisik. Misalnya: Saya butuh slip bank pelunasan atas tagihan PT. XYZ dengan nomor invoice 252. AP Accountant tinggal masuk ke modul AP, lalu memasukan query invoice nomor 252, muncul data transaksi terkait dengan invoice 252 lengkap dengan nomor transaksi. Dengan menggunakan nomor transaksi AP Accountant bisa menemukan folder arsip fisiknya yang sudah disusun secara berurutan.

Tehnik manapun yang anda gunakan tidak masalah, sepanjang anda bisa disiplin dan punya cukup waktu untuk melakukan pengarsipan. Sebaliknya, jika anda tidak cukup disiplin atau tidak punya cukup waktu maka teknik apapun tidak akan efektif.

Saya percaya bahwa setiap accountant dan staff accounting, pada umumnya, cenderung disiplin. Hanya saja ketidakcapakan dalam mengelola pekerjaan dan waktulah yang sering menjadi masalah sesungguhnya.

Bagaimana caranya mengelola waktu antara menjalankan pekerjaan utama dan melakukan pengarsipan?

 

Cara Menjaga Agar Arsip Tetap Rapi Ditengah-tengah Kesibukan

Bagi yang sudah bekerja tentu sudah tahu bahwa, pekerjaan akuntansi itu sendiri sudah menguras waktu, energi dan perhatian—terus berlangsung seolah tak ada habisnya—sehingga aktivitas pengarsipan menjadi sering tertunda atau bahkan tak tersentuh samasekali. Dan, seperti sudah saya contohkan dalam kasus Mira, bisa berakibat buruk.

Jika anda mengalami situasi ini, anda butuh usaha ekstra untuk bisa menjaga agar arsip tetap rapi—tanpa menganggu pekerjaan utama. Berikut adalah teknik yang saya gunakan—dan mungkin bisa anda coba:

1. Jangan pernah membiarkan selembar kertaspun di atas meja. Caranya, sederhana;

(a). Jangan pernah mencetak apapun, kecuali akan langsung disimpan di folder atau dikirimkan ke pihak lain (supplier/pelanggan/departemen lain). Untuk keperluan sendiri anda bisa baca di layar monitor (komputer).

(b) Untuk kertas yang datangnya dari luar, diberikan oleh pihak lain (supplier, pelanggan, atasan, bawahan, rekan kerja, dll), apapun isinya, anda HANYA punya 5 pilihan untuk menyingkirkannya dari meja:

  • Kembalikan – Jika itu bukan untuk anda, tidak anda butuhkan, mengandung kesalahan, perlu anda review dan tandatangan. Lakukan dengan cepat. Jangan ditunda.
  • Lewatkan ke meja orang lain – Jika itu pekerjaan bersama, kerjakan porsi anda, selebihnya lewatkan ke meja orang yang harus mengerjakan berikutnya. Jika anda seorang atasan dan anda bisa mendelegasikan pekerjaan itu ke bawahan, segera lewatkan ke meja bawahan. Lakukan secepatnya. Jangan tunda.
  • Masukan ke dalam folder yang sesuai – Setelah tindakan tertentu (hitung/input ke system/minimal dibaca), segera masukan ke dalam folder yang sesuai jika memang perlu diarsipkan. Lakukan dengan cepat. Jangan ditunda.
  • Masukan ke dalam tray di atas meja – Jika anda perlu waktu lebih dari 5 menit untuk melakukan tindaklanjut, maka masukan kertas tersebut, untuk sementara ke dalam tray yang mungkin ada di ujung meja anda. Jaga, jangan sampai tray ini terisi lebih dari 5 file. Begitu tindak lanjut tuntas dilakukan, maka anda bisa menyimpannya ke dalam folder (arsip), atau di kembalika, atau dilewatkan ke meja orang lain.
  • Buang – Jika tak masuk ke dalam empat kategori di atas, pilihanyang tersisa hanya satu, yaitu: buang ke tong sampah. Selebaran, brosur, fliyer, dan kertas-kertas yang samasekali tidak ada hubungannya dengan anda, lempar ke tong sampah begitu tiba di meja anda.

Begitulah cara saya menjaga agar meja tetap bersih—tak pernah berisi kertas selembarpun. Jika bisa disiplin dan bersikap tegas, saya yakin andapun bisa melakukan itu dengan cepat, disela-sela kesibukan menjalankan pekerjaan utama.

2. Cari waktu khusus untuk menyingkirkan kertas menumpuk

Jika terlajur banyak kertas di meja, mau tidak mau anda perlu mencari waktu khusus untuk menyingkirkannya—supaya tidak menganggu pekerjaan utama. Saran saya, lakukan pada saat tidak ada banyak orang di kantor. Misalnya:

  • Jam istirahat – Jika volumenya tidak terlalu banyak, anda bisa memanfaatkan waktu istirahat selama setengah jam. Instead of Twitteran setelah jam makan, gunakan untuk menyingkirkan kertas-kertas.
  • Malam hari – Jika anda biasa jam 5-tenggo, anda bisa minta ijin pulang terlambat—khusus untuk membersihkan meja dan membereska file-file—tentunya tidak dibayar (tidak dihitung lembur). Usahakan jangan berhenti sampai selesai.
  • Akhir pekan – Jika volume arsip yang berantakan sudah sangat banyak, mungkin ada baiknya dibereskan di akhir pekan. Datang kantor barang setengah hari, khusus fokus untuk membereska file-file dan membersihkan meja—jangan sampai tergoda untuk melakukan aktivitas lain: janga buka email, jangan buka browser—terutama sekali jangan buka media sosial (Facebook, Twitter, GPlus, dan sejenisnya).

Setelah arsip beres dan meja sudah bersih, anda bisa mulai menerapkan cara yang pertama di atas.

Kuncinya, menurut saya, adalah disiplin dan tegas. Terutama tegas terhadap diri-sendiri, adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Kebanyakan dari kita cenderung merasa “semua kertas di atas meja seolah-olah penting”. Jika ini kesulitan yang anda hadapi, mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri. Dengan usaha yang terus-menerus saya yakin anda bisa. Selamat mencoba. Semoga sukses.

Untuk menjadi seorang ahli  akuntansi komputer, tidak perlu kita harus menguasai berbagai macam bahasa program,karena sekarang ini sudah banyak sekali perangkat – perangkat komputer yang kita bisa jadikan sebagai alat untuk membuat  akuntansi komputer, seperti Excel, MS Acces, google docs, jotform.me, mysql dan masih banyak lagi, yang terpenting dalam pembuatan  akuntansi komputer adalah kita memahami dengan benar dan menyeluruh mengenai proses akuntansi yang berlaku, dengan tetap kita harus melakukan evaluasi atas sistem  akuntansi komputer yang kita buat.

ini adalah beberapa kelebihan Akuntansi komputer.

 

sumber : http://www.iaiglobal.or.id/prinsip_akuntansi/index.php?id=97

Dalam PSAK terbaru ini ada beberapa PSAK yang di cabut/tidak diberlakukan lagi, semoga bermanfaat…

DAFTAR STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN

BERLAKU 1 JANUARI 2012

No

 PSAK / ISAK / PPSAK UMUM

Tanggal Efektif

1

PSAK 1 (2009)Penyajian Laporan Keuangan

1-Jan-11

2

PSAK 2 (2009)Laporan Arus Kas

1-Jan-11

3

PSAK 3 (2010)Laporan Keuangan Interim

1-Jan-11

4

PSAK 4 (2009)Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri

1-Jan-11

5

PSAK 5 (2009)Segmen Operasi

1-Jan-11

6

PSAK 7 (2010)Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi

1-Jan-11

7

PSAK 8 (2010)Peristiwa setelah Periode Pelaporan

1-Jan-11

8

PSAK 10 (2009)Pengaruh Perubahan Kurs Valuta Asing

1-Jan-12

9

PSAK 12 (2009)Bagian Partisipasi dalam Ventura Bersama

1-Jan-11

10

PSAK 13 (2011)Properti Investasi

1-Jan-12

11

PSAK 14 (2008)Persediaan

1-Jan-09

12

PSAK 15 (2009)Investasi pada Entitas Asosiasi

1-Jan-11

13

PSAK 16 (2011)Aset Tetap

1-Jan-12

14

PSAK 18 (2010)Akuntansi dan Pelaporan Program Manfaat Purnakarya

1-Jan-12

15

PSAK 19 (2010)Aset Takberwujud

1-Jan-11

16

PSAK 22 (2010)Kombinasi Bisnis

1-Jan-11

17

PSAK 23 (2010)Pendapatan

1-Jan-11

18

PSAK 24 (2010)Imbalan Kerja

1-Jan-12

19

PSAK 25 (2009)Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan  Kesalahan

1-Jan-11

20

PSAK 26 (2011)Biaya Pinjaman

1-Jan-12

21

PSAK 28 ( 2010)Akuntansi Kontrak Asuransi Kerugian

1-Jan-12

22

PSAK 30 (2011)Sewa

1-Jan-12

23

PSAK 33 (2010)Aktivitas Pengupasan Lapisan Tanah Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pada Pertambangan Umum

1-Jan-12

24

PSAK 34 (2010)Kontrak Konstruksi

1-Jan-12

25

PSAK 38 (2004)Akuntansi Restrukturisasi Entitas Sepengendali

1-Jan-05

26

PSAK 36 (2010)Akuntansi Kontrak Asuransi Jiwa

1-Jan-12

27

PSAK 44Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estate

1-Jan-98

28

PSAK 45 (2010)Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba

1-Jan-12

29

PSAK 46 (2010)Pajak Penghasilan

1-Jan-12

30

PSAK 48 (2009)Penurunan Nilai Aset

1-Jan-11

31

PSAK 50 (2010)Insurumen Keuangan: Penyajian

1-Jan-12

32

PSAK 51 (2003)Akuntansi Kuasi-Reorganisasi

1-Jan-00

33

PSAK 53 (2010)Pembayaran Berbasis Saham

1-Jan-12

34

PSAK 55 (2011)Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran

1-Jan-12

35

PSAK 56 (2010)Laba Per Saham

1-Jan-12

36

PSAK 57 (2009)Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi

1-Jan-11

37

PSAK 58 (2009)Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan

1-Jan-11

38

PSAK 60Instrumen Keuangan: Pengungkapan

1-Jan-12

39

PSAK 61Akuntansi Hibah Pemerintah dan pengungkapan bantuan pemerintah

1-Jan-12

40

PSAK 62Kontrak Asuransi

1-Jan-12

41

PSAK 63Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi

1-Jan-12

42

PSAK 64Aktivitas Eksplorasi dan Evaluasi Pada Pertambangan Sumber Daya Mineral

1-Jan-12

43

ISAK 7 (2009)Konsolidasi Entitas Bertujuan Khusus

1-Jan-11

44

ISAK 8Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Suatu Sewa

1-Jan-08

45

ISAK 9Perubahan atas Liabilitas Aktivitas Purnaoperasi, Restorasi,  dan Liabilitas Serupa

1-Jan-11

46

ISAK 10Program Loyalitas Pelanggan

1-Jan-11

47

ISAK 11Distrubusi Aset Nonkas kepada Pemilik

1-Jan-11

48

ISAK 12Pengendalian Bersama Entitas : Kontribusi Nonmoneter oleh Venturer

1-Jan-11

49

ISAK 13Lindung Nilai Investasi Neto dalam Kegiatan Usaha Luar Negeri.

1-Jan-12

50

ISAK 14Aset Takberwujud – Biaya Situs Web

1-Jan-11

51

ISAK 15PSAK 24-Batas Aset Imbalan Pasti, Persyaratan Pendanaan Minimum dan Interaksinya

1-Jan-12

52

ISAK 16Perjanjian Konsesi Jasa

1-Jan-12

53

ISAK 17Laporan Keuangan Interim dan Penurunan Nilai

1-Jan-11

54

ISAK 18Bantuan Pemerintah – Tidak Berelasi Spesifik dengan Aktivitas Operasi

1-Jan-12

55

ISAK 19Penerapan Pendekatan Penyajian Kembali dalam PSAK 63: Pelaporan Keuangan dalam Ekonomi Hiperinflasi

1-Jan-12

56

ISAK 20Pajak penghasilan – perubahan dalam status pajak entitas atau para pemegang saham

1-Jan-12

57

ISAK 22Perjanjian Konsesi Jasa: Pengungkapan

1-Jan-12

58

ISAK 23Sewa Operasi – Insentif

1-Jan-12

59

ISAK 24Evaluasi Substansi beberapa transaksi yang melibatkan suatu bentuk legal sewa

1-Jan-12

60

ISAK 25Hak Atas Tanah

1-Jan-12

61

ISAK 26Penilaian Ulang Derivatif Melekat

1-Jan-12

62

PPSAK 1Pencabutan PSAK 32: Akuntansi Pengusahaan Hutan, PSAK 35: Akuntansi Pendapatan Jasa Telekomunikasi, dan PSAK 37: Akuntansi Penyelenggaraan jalan Tol

1-Jan-10

63

PPSAK 2Pencabutan PSAK 41: Akuntansi Waran dan  PSAK 43 Akuntansi Anjak Piutang

1-Jan-10

64

PPSAK 3Pencabutan PSAK 54: Akuntansi Rekstrukturisasi Utang Piutang Bermasalah

1-Jan-10

65

PPSAK 4Pencabutan PSAK 31:Akuntansi Perbankan, PSAK 42: Akuntansi Perusahaan Efek, dan PSAK 49: Akuntansi Perusahaan Reksa Dana

1-Jan-10

66

PPSAK 5Pencabutan ISAK 06 : Interpretasi atas paragraf 12 dan 16 PSAK 55 (1999) tentang Instrumen Derivatif Melekat pada Kontrak Dalam Mata Uang Asing

1-Jan-10

67

PPSAK 6Pencabutan PSAK 21: Akuntansi Ekuitas, ISAK 1: Interpretasi atas Paragraf 23 PSAK No. 21 tentang Penentuan Harga Pasar Dividen Saham; ISAK 2 Interpretasi atas Penyajian Piutang pada Pemesan Saham dan ISAK 3 Interpretasi tentang Perlakuan Akuntansi atas Pemberian Sumbangan atau Bantuan.

1-Feb-11

68

PPSAK 7Pencabutan PSAK 44: Akuntansi Aktivitas Pengembangan Real Estate

1-Jan-12 dan

 1-Jan 13

69

PPSAK 8Pencabutan PSAK 27: Akuntansi Perkoperasian

1-Jan-12

70

PPSAK 9Pencabutan ISAK 5: Interpretasi atas Par 14 PSAK 50 (1998) tentang Pelaporan Perubahan Nilai Wajar Investasi Efek dalam Kelompok Tersedia Untuk Dijual

1-Jan-12

71

PPSAK 11Pencabutan PSAK 39 Akuntansi Kerja Sama Operasi

1-Jan-12

No

 PSAK SYARIAH

Tanggal Efektif

1

PSAK 59Akuntansi Perbankan Syariah

1-Jan-03

2

PSAK 101 (revisi 2011)Penyajian Laporan Keuangan Syariah

1-Jan-12

3

PSAK 102Akuntansi Murabahah

1-Jan-08

4

PSAK 103Akuntansi Salam

1-Jan-08

5

PSAK 104Akuntansi Istishna’

1-Jan-08

6

PSAK 105Akuntansi Mudharabah

1-Jan-08

7

PSAK 106Akuntansi Musyarakah

1-Jan-08

8

PSAK 107Akuntansi Ijarah

1-Jan-10

9

PSAK 108Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah

1-Jan-10

10

PSAK 109Akuntansi Zakat dan Infak/Sedekah

1-Jan-12

No

 PSAK ETAP

Tanggal Efektif

1

SAK  ENTITAS TANPA AKUNTANBILITAS PUBLIK

1-Jan-11

No

ISAK  DAN  PPSAK UMUM  BERLAKU EFEKTIF 1 JANUARI 2013

 

1

ISAK 21Perjanjian Konstruksi Real Estat

2

PPSAK 10Pencabutan PSAK 51: Akuntansi Kuasi-Reorganisasi

 

sumber : http://www.donaalfian.com/2012/02/software-akuntansi-gratis.html

Berikut saya lampirkan beberapa alamat untuk Software Akuntansi Gratis (GPL) :

Semoga Bermanfaat ;

  1. Turbocash (www.turbocash.net) TurboCash adalah software akuntansi gratis yang memiliki lisensi General Public License (GPL), dikembangkan oleh Philip Copeman beserta team yang berasal dari negara Afrika Selatan. Software akuntansi ini dikembangkan sejak April 1985 dan berlanjut hingga sekarang, dan pada bulan Juli 2003 software ini resmi menjadi GNU Accounting Software.
  2. HomeBank (http://homebank.free.fr) Software akuntansi (Acconting Software) ini dibuat mudah dalam penggunaan untuk kebutuhan laporan keuangan dan lainnya. Analisis keuangan (laporan keuangan) dibuat secara detail menggunakan tools filter yang kuat serta fitur grafik yang cukup menarik. Pengembangan HomeBank Accounting Software dimulai pada tahun 1995 pada komputer Amiga. Software ini tersedia untuk Microsoft Windows, Linux, FreeBSD, dan MacOSX.
  3. LedgerSMB (http://ledgersmb.org) LedgerSMB Accounting Software adalah sebuah program akuntansi keuangan open souce. Pada vesi 1.2, memberikan fitur yang cukup banyak diantaranya AR, AP, dan GL pelacakan serta pengendalian persediaan. LedgerSMB bisa di install dan berjalan dengan baik pada platform Windows, Apple OS X, UNIX termasuk Linux, BSD.
  4. SQL-Ledger (www.sql-ledger.org) SQL – Ledger Free accounting software adalah sistem akuntansi entri ganda. Proses penyimpanan data akuntansi disimpan dalam server database SQL, Sedangkan untuk menampilkan infut data atau front page SQL-Ledger yang merupakan platform independen dan bekerja pada setiap Operating System berbasis Windows, NIX, Mac Windows. Kelebihan SQL-Ledger bisa diakses dari jarak jauh. ini mungkin akan cocok untuk kantor atau perusahaan yang memiliki cabang sehingga dengan mudah bisa terhubung satu sama lain pada waktu yang bersamaan.
  5. jGnash (http://sourceforge.net/projects/jgnash) jGnash accounting software adalah software akuntansi keuangan pribadi cross platform, aplikasi yang ditulis dalam bahasa Java. jGnash memiliki sistem double entry dengan dukungan untuk beberapa jenis mata uang. jGnash accounting software dapat mengimpor file GnuCash dan QIF.
  6. Grisbi (www.grisbi.org) Software akuntansi Grisbi adalah aplikasi akuntansi personal yang berjalan di bawah GNU Windows dan linux.
  7. Gnucash (www.gnucash.org) Software akuntansi GnuCash adalah aplikasi akuntansi untuk pribadi dan Software akuntansi keuangan untuk usaha berskala kecil, software ini dilisensikan free software di bawah GNU GPL dan tersedia untuk Operating System Microsot windows, Linux, Solaris, BSD, dan Mac OS X
  8. Apache OFBiz (http://ofbiz.apache.org) Open For Business (OFBiz) Accounting Software adalah aplikasi akuntansi gratis untuk perusahaan yang dibangun  menggunakan data, logika serta komponen proses yang pada umumnya di gunakan. Software akuntansi yang Flexible ditambah bisa disesuaikan dengan kebutuhan sehingga  membuat setiap  komponennya mudah dipahami.
  9. KMyMoney (http://kmymoney2.sourceforge.net) KMyMoney Accounting Software adalah software akuntansi manajer keuangan pribadi untuk KDE (linux). Software ini beroperasi hampir mirip dengan Microsoft Money yang mendukung kategorisasi biaya dan pendapatan, jenis account yang berbeda, rekonsiliasi rekening bank dan impor atau ekspor ke format *.QIF file.
  10. Free Accounting Software (www.freeaccountingsoftware.net) Free Accounting Software adalah software akuntansi bisnis yang sangat kuat untuk perangkat lunak. Free Accounting Software mencakup banyak fitur baru. Selama dua tahun Software Akuntansi Gratis telah membawa software bisnis akuntansi yang terjangkau bagi lebih dari 100.000 pengguna bisnis perangkat lunak akuntansi di seluruh dunia.

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin