Archive for the ‘Akuntansi’ Category

CoverMetode Penulisan Tugas Akhir Program Vokasi Akuntansi dengan Pendekatan Paradigma Fenomenologi.

AnwarSyamJuni2016 Metode Penulisan Tugas Akhir Program Vokasi Akuntansi Dengan Pendekatan Paradigma Fenomenologi

Jurnal Accountan Politeknik Negeri Jakarta

Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 384
Metode Penulisan Tugas Akhir Program Vokasi Akuntansi dengan Pendekatan Paradigma Fenomenologi
Anwar Syam
Jurusan Akuntansi
Program Diploma IPB, Kampus Cilibende IPB Jl. Kumbang No. 14.
anwarsyam@apps.ipb.ac.id
Abstract
With a guide number of final papers for the vocational program accounting showed him the research methods used, as a basis and guide for students of the vocational program accounting to prepare a report final project. Both the report and the PKL report written works. So this research provides an alternative thesis for the vocational program majoring in accounting. This type of research is qualitative. This study uses interpretivis paradigm that aims to interpret (to interpret) and understanding (to understand) accounting phenomenon. This research method is the phenomenological approach, which seeks to understand the meaning of events and human interaction in a particular situation. The conclusion of this study is the final project for students of vocational accounting progarm with phenomenological approach can be an alternative option to compile the final work. This can be seen as phenomenological approach fits perfectly with the characteristics of vocational students accounting program should internship or field work (PKL). Strengths and weaknesses were visible from the approach undertaken by vocational students of accounting courses that make up the final project is that the students will have a real experience and clearly how to carry out a study in the area which can not be predicted. The disadvantage is that the student should be ready to take the data directly to the object under study. Giving rise to laziness and stress levels are high enough.
Keywords: Writing vocational program in Accounting, Phenomenology approach.

Abstrak
Dengan banyaknya panduan karya tulis akhir bagi program vokasi akuntansi yang tidak memperlihat metode penelitian yang dipakai, sebagai dasar dan panduan bagi mahasiswa program vokasi akuntansi untuk menyusun laporan tugas akhirnya. Baik itu laporan PKL maupun laporan karya tulisnya. Maka penelitian ini memberikan alternatif penulisan tugas akhir bagi program vokasi jurusan akuntansi. Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian ini menggunakan paradigma interpretivis yang bertujuan untuk menafsirkan (to interpret) dan memahami (to understand) fenomena akuntansi. Metode penelitian ini adalah dengan pendekatan fenomenologi, yaitu berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah pembuatan tugas akhir bagi mahasiwa vokasi progarm akuntansi dengan pendekatan fenomenologi dapat menjadi alternatif pilihan untuk menyusun tugas akhir. Hal tersebut dapat terlihat karena pendekatan fenomenologi sangat cocok dengan karakteristik mahasiswa vokasi program akuntansi yang harus magang atau praktek kerja lapangan (PKL). Kelebihan dan kelemahan yang terlihat dari pendekatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa vokasi program akuntansi yang menyusun tugas akhir adalah bahwa mahasiswa akan mempunyai pengalaman yang nyata dan jelas bagaimana melaksanakan suatu penelitian di dalam area yang tak dapat diprediksi. Kelemahannya adalah bahwa mahasiswa tersebut harus siap mengambil data dengan langsung kepada objek yang diteliti. Sehingga menimbulkan kemalasan dan tingkat stress yang cukup tinggi.
Kata Kunci : Karya Tulis Program Vokasi Akuntansi, Pendekatan Fenomenologi.
Pendahuluan
Latar belakang
Dengan semakin banyaknya Perguruan Tinggi yang membuka program studi vokasi atau diploma, maka semakin banyak pula mahasiswa yang terdapat dalam program vokasi dan diploma tersebut. Menurut data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) Tahun 2016. Jumlah Perguruan Tinggi berbentuk Akademi dan Politeknik berjumlah 1.348. Terdiri dari Akademi sebanyak 1.107 dan Politeknik berjumlah 241 (PDPT, 2016). Menurut Undang-undaang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pendidikan vokasi merupakan Pendidikan Tinggi program diploma yang menyiapkan Mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan.
Salah satu program studi dalam vokasi dan politeknik yang paling banyak diminati adalah akuntansi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Martini (tanpa tahun) dapat di simpulkan bahwa mahasiswa yang paling banyak mengambil program studi akuntansi di latarbelakangi oleh faktor sosial. Faktor sosial terebut tidak lepas dari
semakin besarnya peran akuntansi yang dilihat oleh para calon mahasiswa sebagai ilmu yang sangat dibutuhkan oleh dunia perusahaan saat ini.
Selain dari itu program diploma merupakan pendidikan tinggi yang merupakan kelanjutan dari pendidikan menengah (UU 12/2012). Sehingga sebagai mahasiswa dalam pendidikan tinggi setiap mahasiswa wajib untuk mendalami dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi secara bertanggung jawab melalui pelaksanaan Tridharma. Salah satunya adalah dengan karya tulis.
Baik tingkat sarjana, Magister maupun Doktor wajib melakukan karya tulis untuk menutup hasil proses pendidikan yang telah ditempuh tanpa terkecuali program vokasi. Hal tersebut sebagai bukti bahwa mahasiswa tersebut telah dapat membuat suatu karya ilmiah. Sebuah karya tulis yang mengikuti pola dan standar penelitian secara ilmiah. Sehingga laporan Tugas Akhir Mahasiswa Diploma atau Vokasi adalah karya ilmiah yang disusun oleh mahasiswa yang akan menyelesaikan tugas akhirnya berdasarkan data (primer/sekunder) disusun secara komprehensif (dengan aturan tertentu) untuk persyaratan kelulusan pada programnya (Abdillah dan Emigawaty. 2009).
Sebelum dilaksanakan penulisan tugas akhir oleh seorang mahasiswa vokasi diwajibkan untuk magang di lapangan di tempat perusahaan. Hal tersebut lazim disebut dengan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Menurut buku panduan praktik kerja lapangan program diploma IPB tahun 2015. PKL merupakan tugas akhir mahasiswa sebagai wahana proses belajar bagi mahasiswa agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dunia kerja. Sehingga seorang mahasiswa dapat memiliki pengalaman yang nyata di dalam dunia kerja, dan dapat membedakan serta melihat perbedaan dan persamaan antara teori yang telah dipelajari serta kenyataan dilapangan.
Namun dibalik semua hal tersebut diatas adanya banyak perbedaan dan panduan yang ada terkait penyusunan penulisan tugas akhir terkadang menjadi hal yang menarik bagi penulis untuk diteliti. Terutama dibidang vokasi program akuntansi. Sudah sangat jelas bahwa program vokasi akuntansi sangat penting untuk melakukan praktk dilapangan dunia kerja. Karena mata kuliah yang diajarkan merupakan atau sebagian lahir dari praktik-praktik ilmu keungan di dalam dunia usaha. Sehingga seorang mahasiswa program vokasi akuntansi akan sangat terbantu sekali di dalam memahami secara langsung dunia akuntansi yang telah dipelajari di bangku kuliah. Karena teori yang di terima merupakan hal yang dipakai dalam dunia usaha.
Akan tetapi banyak sekali panduan karya tulis akhir bagi program vokasi akuntansi yang secara jelas tidak memperlihat metode yang akan dipakai, sebagai dasar dan panduan bagi mahasiswa program vokasi akuntansi untuk menyusun laporan tugas akhirnya. Baik itu laporan PKL maupun laporan karya tulisnya.
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan alternatif penulisan tugas akhir bagi program vokasi jurusan akuntansi. Karena penulis melihat saat ini banyak penulisan tugas akhir pada program vokasi jurusan akuntansi yang tidak memberikan gambaran tentang metodelogi penulisan yang menjadi dasar dari karya tulis yang dhasilkan. Selain itu tulisan ini diharapkan dapat melihat lebih dalam kelebihan dan kekurangan dalam melakukan penulisan tugas akhir program vokasi jurusan akuntansi dengan pendekatan fenomenologi.
Memang sampai saat ini belum ada kewajiban yang baku untuk penulisan tugas akhir bagi program vokasi jurusan akuntansi yang di buat oleh pemerintah. Sehingga masing-masing perguruan tinggi dapat mengembangkan sendiri pola metode penelitian bagi mahasiswa vokasi jurusan akuntansi sesuai dengan karakter dan keinginan dari perguruan tinggi tersebut.
Dari sekian banyak metodelogi penelitian maupun tulisan yang ada. Penulis akan mencoba membuat suatu alternatif metodelogi penulisan tugas akhir untuk program vokasi jurusan akuntansi. Yaitu dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini dipillih oleh penulis karena merupakan metodelogi yang sangat tepat bagi program vokasi jurusan akuntansi. Karena melalui pendekatan fenomenologi dapat digambarkan dengan jelas suatu fenomena dalam suatu perusahaan dimana seorang mahasiswa yang akan lulus program vokasi tersebut magang.
Sehingga suatu karya tulis yang merupakan suatu tugas akhir bagi mahasiswa vokasi jurusan akuntansi memiliki metodelogi yang jelas dalam melaksanakan tugas akhirnya. Karena pada dasarnya pemilihan penggunaan metode peneltian sangat bergantung pada pertanyaan dan tujuan penelitian serta jawaban yang diharapkan (Budihardjo, 2012:7). Memang masing-masing perguruan tinggi memiliki hak untuk memutuskan dan mengambil, bahkan membuat metode penulisan sendiri untuk panduan penulisan bagi program vokasi jurusan akuntansi di tempatnya. Tetapi dengan adanya tulisan ini semoga memberikan alternatif-alternatif lain bagi panduan penulisan tugas akhir program vokasi jurusan akuntansi
Reviu Pustaka
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 386
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (UU 12/2012 Pasal 1). Sehingga pendidikan adalah suatu usaha yang secara sadar merupaan proses belajar mengajar antara peserta didik dengan yang mendidik. Masih menurut UU 12 Tahun 2012 Pasal 2. Pendidikan Tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program diploma, program sarjana, program magister, program doktor, dan program profesi, serta program spesialis, yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia. Program diploma merupakan pendidikan tinggi atau sering disebut dengan program vokasi.
Pendidikan vokasi merupakan Pendidikan Tinggi program diploma yang menyiapkan Mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu sampai program sarjana terapan. Program diploma terdiri atas program (a) diploma satu; (b) diploma dua; (c) diploma tiga; dan (d) diploma empat atau sarjana terapan (UU 12/2012 Pasal 21 Ayat 3).
Menurut American Institute of Cerified Public Accounting (AICPA) dalam Harahap (2011). Akuntansi adalah proses mengidentifikasikan, mengukur dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi dalam hal mempertimbangkan berbagai alternatif dalam mengambil kesimpulan oleh para pemakainya. Sehingga akuntansi tersebut bisa disebut sebaaai bahasa atau alat komunikasi bisnis yang dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan berupa posisi keuangan yang tertuang dalam jumlah kekayaan, utang dan modal suatu bisnis dan hasil usahanya pada suatu waktu untuk periode tertentu (Harahap, 2011).
Dapat penulis simpulkan bahwa pendidikan vokasi akuntansi adalah suatu proses usaha yang sadar dalam pendidikan tinggi untuk mempelajari secara bertahap dan menuntut kepada keahlian serta mempraktekan secara nyata, yang di dapat dalam proses menuntut ilmu, untuk memahami dan mempelajari proses mengidentifikasikan, mengukur dan menyampaikan informasi ekonomi sebagai bahan informasi kepada pihak yang membutuhkan dengan alat komunikasi bisnis yang dapat memberikan informasi tentang kondisi keuangan berupa posisi keuangan.
Metodologi
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Creswell (2009:22) “Qualitative research is a means for exploring and understanding the meaning individuals or groups ascribe to a social or human problem”. Dimana dalam melakukan penelitian kualitatif bersifat alamiah. Karena metode penelitiannya di lakukan pada kondisi yang alami atau natural setting (Sugiono, 2014:8 dan Sudarma, 2010:101 ). Sedangkan menurut Moleong (2010:6) penelitian kualitatif dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Sehingga seorang peneliti dapat meng interprestasikan data-data yang perolehnya (Creswell, 2009:22). Penelitian ini menggunakan paradigma interpretivis yang bertujuan untuk menafsirkan (to interpret) dan memahami (to understand) fenomena akuntansi (Triyuwono, 2013:6).
Metode penelitian ini adalah dengan pendekatan fenomenologi, yaitu berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus (Sriwinarti dan Triyuwono, 2010). Langkah yang dilakukan untuk melakukan penenlitina ini dlakukan dengan cara observasi terhadap kondisi yang ada dalam suatu lingkungan yang akan diteliti. Dimana observasi menurut Rahmat (2009) peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut.
Pembahasan
Program vokasi biasanya masa perkuliahan dilakukan dengan cepat. Ada yang Diploma 1, Diploma 2, Diploma 3 dan Diploma 4 Terapan. Masing-masing program tersebut memiliki keunikan dan keahlian sendiri-sendiri. Hasil akhir program tersebut adalah magang di perusahaan-perusahaan yang mau menerima mahasiswa magang, dan selanjutmya mahasiswa tersebut akan membuat suatu karya ilmiah yang disebut tugas akhir.
Tugas akhir tersebut bagi program vokasi akuntansi sangat penting sekali. Karena tugas akhir tersebut merupakan hasil dari mahasiswa tersebut magang ditempat tersebut. Sehingga hasil karya akhir tersebut merupakan gambaran implementasi yang di alami oleh mahasiswa tersebut selama masa magang di perusahaan tersebut.
Gambar 1. Proses Pendidikan Program Vokasi
Pada program vokasi akuntansi, saat perkuliahan mahasiswa akan diberikan materi-materi teori yang harus dikuasai oleh mahasiswa. Materi teori Perkuliahan Magang di Perusahaan Tugas Akhir
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 387
tersebut dibagi dengan dua model yaitu perkuliahan teori dan pratikum. Nilai pratikum memiliki bobot SKS yang lebih besar daripada perkuliahan teori. Karena pratikum merupakan tujuan dari pendidikan vokasi akuntansi agar mahasiswa bisa langsung mempraktekan teori yang dijadikan praktik dalam pratikum. Oleh karena itulah salah satu kelebihan dari program vokasi akuntansi. Karena teori-teori perkuliahan yang ada merupakan hasil dari praktek-praktek dalam bidang keuangan di dunia bisnis sehari-hari. Sehingga otomatis mahasiswa program vokasi akuntansi akan merasa terbiasa dengan praktik nyata di dalam perusahaan. Sehingga progarm vokasi akuntansi memberikan dan menghasilkan mahasiswa yang siap terjun kedalam dunia nyata di bidang keuangan.
Persiapan Tugas Akhir
Pada proses persiapan mahasiswa vokasi akuntansi untuk menghadapi tugas akhir, yang paling utama tentukan minat dan bakat mahasiswa tersebut. Apakah mahasiswa tersebut minat kedalam perhitungan Aset, Liabilities atau Equity. Setelah di lihat minat dan bakat yang sudah ada mahasiswa tersebut yang paling penting adalah mendapatkan tempat untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) atau magang. Hal tersebut mutlak harus dilaksanakan oleh mahasiswa tersebut agar bisa lulus.
Setelah mahsiswa tersebut telah cukup SKS atau cukup dengan syarat yang ada oleh perguruan tinggi. Maka mahasiswa tersebut wajib melaksanakan seminar proposal. Proposal seminar tersebut ada yang dilaksanakan sebelum mahasiswa magang ataupun saat mahasiswa magang. Namun sebaiknya seminar tersebut dilaksanakan setelah mahasiswa tersebut magang. Karena ketika setelah magang mahasiswa mempunyai gambaran ataupun perencanaan yang saat mempersiapkan seminar. Karena mahasiswa tersebut sudah melihat di lapangan tempat dia magang. Sehingga pengalaman tersbeut memberikan motivasi dan perencanaan yang cukup bagi mahasiswa untuk melaksankan seminar.
Dalam mempersiapkan proposal seminar hal perlu diperhatikan adalah tentukan paradigma yang akan di gunakan. Paradigma adalah pola atau model tentang bagaimana sesuatu distruktur (bagian dan hubungannya) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi, perilaku yang didalamnya ada konteks khusus atau dimensi waktu (Moleong, 2010). Jika disederhakan paradigma adalah sebuah pola pikir manusia. Mau dibawa kemana arah penelitian ini. Bagaimana cara menyusunnya serta bagaimana cara memperoleh datanya. Menurut Kuhn dalam Sriwinarti dan Triyuwono (2010). Paradigma adalah adalah suatu cara untuk mengetahui realitas sosial yang dikostruksi melalui suatu model penyelidikan tertentu yang kemudian menghasilkan sebuah model untuk mengetahui sesuatu yang lebih spesifik.
Dalam pemilihan paradigma ini penulis menyarankan untuk mengunakan paradigma interpretivis. Penelitian yang dilakukan dalam wilayah paradigma interpretivis bertujuan untuk menafsirkan (to interpret) dan memahami (to understand) fenomena akuntansi. bagi paradigma ini, akuntansi merupakan representasi dari sebuah realitas (Triyuwono, 2013). Sehingga dengan paradigma ini akan dapat digunakan pendekatan fenomenologi sebagai alat analisisnya.
Tahapan Penulisan Tugas Akhir
Tahapan penulisan tugas akhir di mulai sejak dari persiapan seminar proposal dan sidang akhir. Tahapan penulisan tugas akhir dapat dibagai sebagai berikut :
1. Pendahuluan
2. Penelahaan Kepustakaan
3. Pembahasan
4. Kesimpulan
1. Pendahuluan
Dalam tahap pertama ini yang harus dijelaskan oleh mahasiswa adalah latar belakang munculnya penelitian. Maksud dan Rumusan masalah penelitian yang menjelsakan tentang landasan apa yang ingin di capai oleh seorang peneliti dalam tulisannnya. Sehingga seorang peneliti memiliki batasan yang ada dalam melaksanakan penelitiannya. Langkah berikutnya adalah tentukan Tujuan dan Konstrubusi penelitian. Tujuan adalah sebagai barometer dan batasan atas hasil dari penelitiannya. Selain itu tujuan juga berfungsi sebagai arah penelitian yang dilaksanakan sehingga terukur dan terarah.
Konstribusi penelitian berguna untuk memberikan masukan bagi tempat mahasiswa magang. Sehingga dengan adanya konstribusi penelitian tersebut. Perusahaan atau tempat magang mahasiswa tersebut memiliki masukan yang diberikan secara objektif oleh seorang peneliti yang sedang magang.
2. Penelahaan Kepustakaan
Pada tahap ini seorang mahasiswa program vokasi akuntansi harus bisa mencari grand theory yang akan di jadikan dasar untuk penelitan. Penelahaan pustaka ini merupakan kajian terhadap teori-teori yang relevan dengan isu penelitian. Sehingga seorang peneliti akan mempunyai pendapat yang kuat karena di ikuti dengan referensi-referensi yang ada.
Walaupun begitu penelaahan kepustakaan ini tidak harus banyak teori yang diungkapkan. Yang penting adalah relevan dengan karya tulis yang akan di buat. Penelahaan pustaka ini terutama harus diperdalam dibagian pengertian dan penjelasan-penjelasan yang mencakup definisi dari istilah yang ada.
Dalam penelahaan pustaka ini harus pula di buat rerangka pemikiran. Dengan adanya rerangka
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 388
pemikiran maka akan berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan. Dalam rerangka pemikiran harus bisa diuraikan secara logis dan mengalir dari masalah penelitian. Dengan begitu maka penenlitian yang akan dilaksanakan akan menjadi terarah dan terukur.
3. Pembahasan
Dalam bagian pembahasan ini adalah yang paling penting. Karena dalam bagian pembahasan ini akan menjelsakan hasil dari penelitian yang dilakukan. Berdasarkan dari paradigma yang kita gunakan di atas maka dalam memperoleh data dapat dilakukan dengan 3 (tiga) hal, yaitu 1. Wawancara, 2. Observasi dan 3. Penelahaan dokumen.
Dalam memperoleh data lewat wawancara menurut Moleong (2010). Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, Perkapan itu dilakukan dengan dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Hal tersebut juga ditegaskan bahwa wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya (Rahmat, 2009).
Dalam melaksanakan wawancara, seorang peneliti harus memberikan penjelasan yang akurat mengenai berapa orang yang akan di wawancara, siapa yang akan di wawancara dan apa kaitannya yang akan di wawancara dengan penelitian yang akan dlakukan. Juga harus memberikan apa kriteria seseorang tersebut menjadi yang akan di wawancara. Narasumber yang akan di wawancara dalam penelitian ini di sebut dengan informan.
Dalam melaksanakan teknik wawancara harus disiapkan beberapa alat yang akan digunakan sebagai bahan bukti hasil penelitian. Alat yang harus dipersiapkan tersebut bisa apa saja. Yang terpenting dapat menjadi bukti atas kejadian wawancara yang telah dilakukan. Alat tersebut seperti recorder, buku, kamera dan yang lainnya. Sebaiknya alat tersebut diberikan penomoran setelah dilakukan wawancara. Dan setiap selesai dilaksanakan wawanacar terhadap informan, seorang peneliti harus langsung merangkum hasil wawancara tersebut. Jangan di tunda-tunda karena dengan langsung merangkum tersebut maka akan langsung di ambil kesimpulan dari hasil wawancara tersebut.
Gambar 2. Metode Pengumpulan data
Tahap berikutnya adalah Observasi, Observasi adalah suatu bentuk perbuatan melihat kondisi dan memahami keadan sekitar atau teapat yang kita akan teliti. Tujuan observasi adalah menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (Rahmat, 2009).
Observasi sangat penting sekali bagi program vokasi akuntansi yang sedang melaksanakan tugas akhirnya. Karena dengan observasi seorang mahsiswa dapat langsung melihat kondisi dan keadaan yang ada di dalam perusahaan yang sedang ia ikuti untuk magang. Dengan adanya observasi seoarng mahasiswa tersebut dapat mengambil kesimpulan atas pemantauan dari lingkungan tempat magangnya. Karena tempat praktek kerja lapangan (PKL) mahasiswa tersebut adalah objek tempat penenlitiannya.
Yang terkahir adalah penenalahaan dokumen. Dokumen sangat penting untuk menjadi metode pengumpulan data karena dokumen merupakan sejumlah fakta dan data yang tersimpan dalam bentuk dokumentasi (Rahmat, 2009). Dokumen tersebut sebelum kita telaah maupun periksa sebaiknya disortir terlebih dahulu. Hal tersebut dilakukan agar dapat meminimalisir terbuangnya waktu saat akan melaksanakan penelahaan. Sortir tersebut maksudnya adalah untuk mengambil hanya dokumen yang terkait dengan penelitian saja. Sehingga dokumen yang tidak terkait dengan penelitian tersebut dapat di abaikan.
Metode Pengumpulan Data Observasi
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 389
Hasil dari data-data yang telah dperolah tersebut dapat langsung dilakukan analisis. Dengan cara melihat fenomena yang ada dilapangan dibandingkan dengan data yang telah kita peroleh. Hasil setiap fenomena yang telah diperoleh sebaiknya dibuat kesimpulan. Hasil dari kesimpulan tersebut dpat kita rangkai dalam suatu kalimat hasil penelitian. Dengan begitu saat setiap melaksanakan analisis data dapat kita tarik suatu kesimpulan.
Hasil dari kesimpulan tersebut sebaiknya harus selalu dikaji dan dibaca kembali. Karena ada kalanya hasil dari kesimpulan yang sudah kata buat sama dengan hasil kesimpulan yang sudah kita temukan saat melaksanakan analisis data sebelumnaya. Sehingga dengan langkah tersebut akan meminimalisir duplikasi kesimpulan yang sama.
Hasil dari seluruh kesimpulan tersebut dapat kita lakukan crosschek satu dengan yang lainnya. Sehingga dengan langkah tersebut maka akan terlihat secara luas bahwa hasil penelitian yang dilakukan dengan pendekatan fenomenologi terhubung.
4. Kesimpulan
Kesimpulan merupakan hasil akhir dari tugas akhir yang sudah dibuat. Kesimpulan merupakan suatu jawaban atas tujuan yang telah ditetapkan saat kita melaksanakan penelitian. Ada baiknya kesimpulan tersebut tidak hanya bersifat jawaban atas tujuan penelitian yang kita lakukan. Sebaiknya kesimpulan juga berisi tentang Masukan dan saran bagi objek penelitian atau tempat magang yang mahasiswa lakukan. Juga berikan tanggapan yang positif terhadap tempat magang yang sudah mau menerima mahasiswa untuk praktek kerja lapangan (PKL).
Karena dengan adanya masukan dan juga tanggapan yang positiv terhadap perusahaan atau tempat magang yang telah menerima mahasiswa. Maka akan tercipta suatu harmonisasi yang terikat antara mahsiswa dengan perusahaan atau objek tempat mahsiswa PKL. Sehingga akan memperlihatkan suatu tindakan ucapan terima kasih secara tidak langsung dari mahasiswa yang magang di tempat tersebut kepada pimpinan perusahaan tempat mahasiswa magang.
Kesimpulan
Dari hasil kajian diatas dapat disimpulkan bahwa pembuatan tugas akhir bagi mahasiwa vokasi progarm akuntansi dengan pendekatan fenomenologi dapat menjadi alternatif pilihan untuk menyususn tugas akhir. Hal tersebut dapat terlihat karena pendekatan fenomenologi sangat cocok dengan karakteristik mahasiswa vokasi program akuntansi yang harus magang atau praktek kerja lapangan (PKL). Karena pendekatan fenomenologi berusaha untuk memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia di dalam situasinya yang khusus.
Kelebihan dan kelemahan yang terlihat dari pendekatan yang dilaksanakan oleh mahasiswa vokasi program akuntansi yang menyusun tugas akhir adalah bahwa mahasiswa akan mempunyai pengalaman yang nyata dan jelas bagaimana melaksanakan suatu penelitian di dalam area yang tak dapat diprediksi. Kelemahannya adalah bahwa mahasiswa tersebut harus siap mengambil data dengan langsung kepada objek yang diteliti. Sehingga menimbulkan kemalasan dan tingkat stress yang cukup tinggi. Karena setiap selesai mendapatkan data harus dilakukan tinjauan kembali terhadap data yang telah ada dan dilakukan kesimpulan.
Namun dibalik itu semua semoga tulisan ini memebrikan suatu gambaran tentang adanya alternatif lain tentang tatacara penyusunan tugas akhir bagi mahasiswa vokasi jurusan akunatansi. Semoga dengan adanya tulisan ini dapat merangsang penulis-penulis lain untuk memberikan idenya terhadap tatacara penyusunan penulisan tugas akhir bagi mahasiswa program vokasi jurusan akuntansi yang akan menyelesaikan tugas akhir.
Daftar Pustaka
Pangkalan Data Perguruan Tinggi. 2016. Grafik Jumlah Perguruan Tinggi. http://forlap.ristekdikti.go.id/perguruantinggi/homegraphpt (dikunjungi, 9/5/2016, 11:36 WIB)
Martini. Tanpa Tahun. Analisa Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Jurusan Akuntansi Sebagai Tempat Kuliah Di Perguruan Tinggi. Fakultas Ekonomi Universitas Budi Luhur Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi.
Abdillah, Leon Andretti dan Emigawaty. 2009. Analisis Laporan Tugas Akhir Mahasiswa Diploma I Dari Sudut Pandang Kaidah Karya Ilmiah Dan Penggunaan Teknologi Informasi (Pada Program Studi Manajemen Informatika DI). Jurnal Ilmiah MATRIK, 11(1) : 19-36.
Program Diploma IPB. 2015. Buku Panduan Praktik Kerja Lapangan. Program Diploma Institut Pertanian Bogor.
Budihardjo, Andreas. 2012. Telaah Singkat Metode Penelitian Kuantitatif vs Kualitatif. DRPM gazette, 5(4) : 17-20.
Creswell, Jhon W. 2009. Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches. USA: SAGE Publications.
Sugiono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 390
Sudarma, Made. 2010. Paradigma Penelitian Akuntansi dan Keuangan. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 1 (1) , 97-108.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Triyuwono, Iwan. 2013. Makrifat Metode Penelitian Kualitatif Dan Kuantitatif Untuk Pengembangan Disiplin Akuntansi. Makalah ini diseminarkan dalam acara Simposium Nasional Akuntansi ke-16 di Manado pada tanggal 25-27 September 2013.
Sriwinarti, Ni Ketut dan Iwan Triyuwono. 2010. Pemilihan Paradigma Penelitian Akuntansi: Analisis Berdasarkan Pewarigaan dan Kecerdasan Manusia. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, 1 (2), 1-19.
Rahmat, Pupu Saeful. 2009. Penelitian Kualitatif. Jurnal Equilibrium, 5(9), 1-8.
Harahap, Sofyan Syafri. 2011. Teori Akuntansi. Jakarta: Rajawali Press, PT. RajaGrafindo Persada.
Moleong, Lexy J. 2010. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Account: Anwar Syam
Politeknik Negeri Jakarta Halaman 391

Jurnal Anwar ok

 

 

 

 

 

 

 

Jurnal Pengadaan Edisi 4

sumber : http://acch.kpk.go.id/uu-no-8-tahun-2010

articleada umumnya pelaku tindak pidana berusaha menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan yang merupakan hasil dari tindak pidana dengan berbagai cara agar Harta Kekayaan hasil tindak pidananya susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum sehingga dengan leluasa memanfaatkan Harta Kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah.

 

Karena itu, tindak pidana Pencucian Uang tidak hanya mengancam stabilitas dan integritas sistem perekonomian dan sistem keuangan, tetapi juga dapat membahayakan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam konsep antipencucian uang, pelaku dan hasil tindak pidana dapat diketahui melalui penelusuran untuk selanjutnya hasil tindak pidana tersebut dirampas untuk negara atau dikembalikan kepada yang berhak. Apabila Harta Kekayaan hasil tindak pidana yang dikuasai oleh pelaku atau organisasi kejahatan dapat disita atau dirampas, dengan sendirinya dapat menurunkan tingkat kriminalitas. Untuk itu upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana.

Dalam perkembangannya, tindak pidana Pencucian Uang semakin kompleks, melintasi batas-batas yurisdiksi, dan menggunakan modus yang semakin variatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan, bahkan telah merambah ke berbagai sektor.
Bahwa pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang memerlukan landasan hukum yang kuat untuk menjamin kepastian hukum, efektivitas penegakan hukum, serta penelusuran dan pengembalian Harta Kekayaan hasil tindak pidana, maka DPR RI dan Presiden RI menyusun dan menetapkan UU Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

Berikut ini saya untitledberikan alur pelaporan SPJ BOPTN tahun 2013, menurut versi yg saya dapat, semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

\>> TATACARA PERTANGGUNG JAWABAN KEUANGAN DANA BOPTN 2013

 

images5Berikut ini adalah tatacara penyusunan laporan keuangan Untuk Pengelolaan Keuangan Berbadan BLU, Semoga Bermanfaat..

TATACARA PENYUSUAN LAPORAN KEUANGAN BADAN LAYANAN UMUM

Pentingnya peranan audit internal sekarang ini semakin dirasakan oleh berbagai aktivitas organisasi baik organisasi profit maupun organisasi non profit, baik berbentuk perusahaan maupun perguruan tinggi, dengan semakin canggih nya teknologi dalam mengolah data keuangan maka dibutuhkan pula pengawasan yang semakin canggih di bidang sistem yang akan di gunakan untuk melakukan pemeriksaan dibidang keuangan.

oleh karena itulah munculnya pemeriksaan keuangan berbasis IT, untuk mendukung kemajuan teknologi bidang keuangan, dengan adanya pemeriksaan keuangan berbasis IT maka akan mempermudah proses pemeriksaan serta mempercepat dalam melakukan tahap2 dalam pemeriksaan keuangan.

Berikut adalah Skema sistem yg saya buat.

sumber : http://www.bpk.go.id/web/?p=13918

Wakil  Ketua BPK Hasan Bisri mengatakan, kunci untuk memperoleh opini laporan keuangan lebih baik ada lima. “Kunci pertama adalah komitmen, kenali masalah, tunjuk orang-orang yang harus diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah itu, buat jadwal (action plan), dan yang terakhir dikontrol secara periodik. Apabila cara seperti ini dilakukan, pada umumnya berhasil,” jelas Hasan Bisri.

Pernyataan itu dilontarkan dalam kegiatan sosialisasi bertema “Pemeriksaan BPK: Mengawal Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Negara” yang diadakan BPK RI, pada Senin, 19 November 2012. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan public awareness BPK RI, yang ditujukan untuk para pemangku kepentingan di daerah khususnya Pemerintah Daerah dan Tokoh Masyarakat. Selain Wakil Ketua BPK RI Hasan Bisri, bertindak sebagai pembicara pada kegiatan ini adalah Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Zulkieflimansyah. Acara digelar di Sekolah Tinggi Teknologi Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sosialisasi ini juga dihadiri oleh Gubernur NTB, Zaenul Majdi, Kepala Perwakilan BPK RI Provinsi NTB, Eldy Mustafa, Bupati Sumbawa, Jamaluddin Malik, pimpinan DPRD Provinsi NTB, Kepala Biro Humas dan Luar Negeri BPK RI Bahtiar Arif, para Pimpinan Instansi Vertikal Provinsi NTB, serta para pejabat di lingkungan Pemda NTB dan BPK RI.

Pada kesempatan ini, Wakil Ketua BPK RI juga menjelaskan antara lain tentang landasan hukum, kedudukan, sumber daya manusia, jenis pemeriksaan, opini, tugas, fungsi dan kewenangan BPK RI. Selain itu Wakil Ketua BPK RI mengungkapkan terkesan dengan ide pembangunan STTS mengingat lokasi yang berada di pegunungan. “Biasanya ide besar selalu tidak masuk akal dan aneh di pikiran orang lain, saya berharap pelaksanaan pendidikan di STTS nantinya berjalan dengan lancar,” ungkap Hasan Bisri.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI, membahas megenai peran BPK dalam mewujudkan kualitas anggaran daerah serta pengawasan yang dilakukan oleh DPR RI. DPR RI memberikan perhatian yang kuat terhadap peningkatan kapasitas SDM dan perbaikan sistem, mekanisme, dan standar pemeriksaan BPK. Terkait  pembangunan STTS yang sedang berjalan, beliau berharap sekolah ini bisa terealisasi serta berguna bagi masyarakat Sumbawa. “Mudah-mudahan institusi yang penting buat kita ini, bisa hadir disini bukan hanya untuk masyarakat Sumbawa tetapi untuk masyarakat NTB dan Indonesia pada umumnya” ungkap Zulkieflimansyah.

Senada dengan Zulkieflimansyah, Gubernur NTB dalam sambutannya mengemukakan bahwa, sangat terkesan dengan acara sosialisasi ini, karena dapat memberikan pengetahuan tentang BPK RI dan bermanfaat bagi Sumbawa dan NTB pada umumya. “Saya punya optimisme, Sumbawa yang kita cintai ini akan jauh lebih maju pada masa yang akan datang,” tegas Zaenul Majdi.

Sebelumnya, Kepala Perwakilan BPK RI Provinsi NTB melaporkan bahwa BPK Perwakilan NTB telah memberikan opini kepada 11 entitas, dengan berbagai opini sesuai dengan gambaran dan fakta pengelolaan serta pertanggung jawaban keuangan daerah. BPK memberikan apresiasi atas usaha perbaikan yang dilakukan oleh pemda yang semakin besar. ”Besar harapan kami bahwa rencana aksi untuk perbaikan tersebut dilaksanakan, sehingga LKPD tahun mendatang terjadi perbaikan yang signifikan,” tambah Eldy Mustafa.

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/10/cara-mengelola-arsip-akuntansi-agar-rapi-dan-efektif/#comment-1483

Bagi yang sudah bekerja, pasti pernah dipusingkan oleh urusan arsip. Khususnya di akuntansi, mengelola arsip adalah tantangan tersendiri—thus butuh keterampilan (dan kecerdasan) khusus. Bagaimana caranya mengelola arsip akuntansi agar menjadi rapi dan efektif? Itu yang ingin saya share lewat tulisan ini.

Arsip, mungkin terdengar spele. Sesungguhnya sangat vital, khususnya dalam pekerjaan akuntansi (tidak tahu di wilayah lain)—bahkan bisa berpengaruh langsung terhadap kinerja kita.

 

Mengapa Pengelolaan Arsip Akuntansi Penting, Seberapa Penting?

Ya, saya tahu semua kantor juga punya dokumen dan arsip. Tetapi dokumen dan arsip di akuntansi dan keuangan sedikit agak berbeda—sehingga diperlukan pengelolaan yang khusus.

Apa istimewa (atau kekhususan) arsip akuntansi dan keuangan—jika dibandingkan dengan arsip-arisp lain?

Arsip akuntansi bersifat lebih sensitif dibandingkan dengan arsip-arsip lainnya. Sensitif karena beberapa alasan berikut ini:

1. Arsip akuntansi adalah arsip transaksi uang (bersifat monetary) – Meskipun tidak semua transaksi yang dicatat dalam akuntansi berupa kas (uang), semuanya akan berujung pada uang, setidak-tidaknya bisa dikonversikan ke dalam nilai uang. Artinya bisa menimbulkan kerugian langsung dalam bentuk uang jika salah kelola.

Misalnya: Berdasarkan nota yang diterima, anda mengakui adanya pembelian barang persediaan di Toko ABC sebesar Rp 50,000,000. Meskipun tidak langsung dibayar saat itu juga, karena pembelian kredit, tetap saja suatu saat nanti—bila sudah jatuh tempo—harus dibayar dalam bentuk kas (uang). Dan barang yang anda akui dalam pembelian tersebut juga bisa dikonversikan menjadi uang (persediaan dijual).

2. Arsip akuntansi menyangkut hak dan kewajiban pihak lain – Nyaris semua transaksi yang dicatat dan dilaporkan, dalam proses akuntansi, menyangkut hak dan kewajiban pihak lain. Artinya, kesalahan dalam proses pencatatan dan penyajian laporan keuangan berdampak langsung terhadap hak-dan-kewajiban pihak lain. Jika terjadi perselisihan (ketidaksepakatan), di kemudian hari, maka satu-satunya yang menjadi dasar dalam menyelesaikan masalah adalah arsip yang berupa bukti transaksi.

Misalnya: Melanjutkan contoh di atas. Pengakuan pembelian secara kredit, artinya: perusahaan berhak menerima barang di satu sisinya, dan berkwajiban untuk membayar utang di sisi lainnya. Di sisi lainnya, Toko ABC berhak untuk menerima pembayaran (bila utang sudah jatuh tempo) dan berkewajiban untuk menyerahkan barang yang dibeli.

3. Akuntansi hanya mengakui transaksi yang didukung oleh bukti – Karena pertimbangan pertama dan kedua di atas, maka akuntansi hanya mengakui (mencatat) transaksi-transaksi yang didukung oleh bukti transaksi (entah itu dalam bentuk nota, invoice, akte sewa, dan lain sebagainya)—yang selanjutnya diarsipkan. Artinya setiap angka yang ada di “buku besar” dan ‘laporan keuangan” harus didukung oleh arsip bukti transaksi. Jika dibalik maka, setiap 1 lembar arsip adalah bukti transaksi—yang jika hilang akan membuat pengakuan atas transaksi tersebut menjadi tidak valid (sah) secara akuntansi. Ini akan sangat terasa ketika menjalani proses audit—terutama oleh pihak eksternal (auditor eksternal atau pajak).

Misalnya: Masih menggunakan contoh yang sama. Atas pembelian persediaan tersebut anda mengakui utang sebesar Rp 50,000,000, misalnya. Angka tersebut dikatakan valid secara akuntansi hanya bila didukung oleh nota pembelian (invoices) yang menunjukan angka yang sama, yaitu Rp 50 juta.

4. Diwajibkan oleh aturan (perpajakan) – Peraturan perpajakan secara tegas mengatur bahwa perusahaan (selaku wajib pajak) wajib menyimpan arsip data keuangan yang dijadikan dasar dalam penyusunan laporan keuangan fiskal yang disertakan dalam surat pemberitahuan pajak tahunan.

Dari keempat alasan di atas jelas terlihat betapa pentingnya arsip dalam pekerjaan akuntansi. Sayangnya saya masih sering menemukan arsip staf accounting yang tidak rapi atau tidak efektif, yang berantakan mirip kapal pecah juga ada.

 

Apa Penyebab Arsip Tidak Rapi?

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa mengelola arsip adalah pekerjaan yang super-sulit, tetapi juga tidak mau menyepelekan. Pengalaman saya pribadi menunjukan:

  • Begitu banyak kasus sederhana menjadi pelik, tak terpecahkan, gara-gara arsip hilang.
  • Pekerjaan akuntansi yang mestinya bisa dirampungkan dengan cepat, menjadi lama—bahkan mungkin tak kunjung selesai—gara-gara arsip yang sulit ditemukan.
  • Di akhir hari kerja, saya masih sering menemukan meja-meja yang ditimbuni oleh tumpukan-tumpukan kertas. Bahkan tidak sedikit kertas yang ‘ngendon’ di dalam laci dan kolong meja berbulan-bulan.

Saya percaya akuntan dan staff accounting tahu persis betapa pentingnya arsip yang rapi, dalam pekerjaan akuntansi dan keuangan. Arsip berantakan tidak timbul begitu saja, melainkan ada penyebabnya.

Sejauh yang pernah saya lihat, penyebab utamanya adalah overload pekerjaan utama—entah karena rasio ‘volume pekerjaan’ versus ‘jumlah-staf’ yang tidak seimbang; atau karena kekurangcakapan dalam mengelola pekerjaan sehingga menjadi overload—yang pada akhirnya membuat proses pengarsipan menjadi terabaikan atau dilakukan sekedarnya saja.

Arsip tidak rapi, jika tidak ditangani secepatnya bisa berpengaruh buruk terhadap kinerja.

 

Arsip Yang Tidak Rapi Berpengaruh Buruk Terhadap Kinerja

Disadari atau tidak (dalam banyak kasus seringkali tidak disadari), arsip yang berantakan berpengaruh buruk terhadap kinerja—individu atau team—perlahan namun pasti, bahkan bisa menjadi sangat buruk. Saya menyebut ini dengan istilah “fenomena spiral menurun”. Konkretnya, bisa saya ilustrasikan dengan contoh kasus sbb:

Awalnya, Mira (seorang staf accounting) dilanda overload—volume pekerjaannya lebih banyak dibandingkan kemampuannya menyelesaikan. Akibatnya, Mira tidak sempat menata arsip.

Dua bulan berlalu, arsip kian bertebaran dimana-mana—hingga Mira sendiri sudah tidak tahu lagi arsip apa disimpan dimana. Dampak yang paling dirasakan setiap kali atasan meminta bukti transaksi, Mira terpaksa menghentikan pekerjaan utamanya.

Karena seringnya menghentikan pekerjaan utama (saat mencari arsip), laporan yang dibuat oleh Mira menjadi sering tidak tepat-waktu. Kualitas laporannyapun kian lama kian tidak akurat—semakin sering melakukan kesalahan. Akibat langsung dari ini, atasannya jadi sering marah-marah.

Karena sering mendapat teguran, Mira jadi sering merasa suntuk. Semakin suntuk, semakin Mira tidak bisa fokus, sehingga kinerjanya terus merosot. Karena kinerja merosot, saat penilaian kinerja tiba, hasil review menunjuka score yang buruk dan tidak memperoleh kenaikan gaji.

Mendapati kenyataan pahit itu, Mira makin meradang. Nota-pun menjadi semakin tidak pernah diurus—hingga kian lama kian menggunung. Saking penuhnya meja kerja, Mira sampai kesulitan untuk mencari bukti transaksi di hari yang sama—yang mestinya masih mudah untuk ditemukan. Tentu atasan Mira menjadi kian sering marah-marah. Semakin sering kena marah, Mira semakin kecewa, semakin tidak berinisiatif, semakin tidak peduli, kinerjanya semakin ngawur. Akhir cerita ini bisa ditebak. Ya, Mira dikeluarkan (di PHK).

Nah, itu yang saya sebut dengan istilah “fenomena spiral menurun”. Bukan hanya di wilayah kerja, fenomena yang sama bisa terjadi di setiap lini kehidupan. Misalnya:

  • Kehidupan pribadi – Karena diputusin pacar, jadi peminum alkohol, sering mabuk. Karena sering mabuk, maka menjadi nampak buruk di mata gadis-gadis, sehingga semakin dijauhi. Bahkan sahabat dekatpun menjauh satu-per-satu. Merasa diacuhkan dan kesepian, jadi frustrasi, lalu ngobat, dan seterusnya (silahkan dilanjutkan sendiri).
  • Kehidupan bisnis – Pengelolaan operasional perusahaan yang tidak efektif membuat kondisi keuangan perusahaan menjadi terganggu. Kondisi keuangan terganggu membuat pengusaha terpaksa mengurangi skala operasional perusahaan, mengurangi jumlah staf, mengurangi penggunaan fasilitas (mesin dan alat), akibatnya mutu produk yang dihasilkan memburuk, pasar semakin menyempit, respon pasar semakin buruk, kondisi keuangan semakin memburuk, dan setrusnya (silahkan dilanjutkan sendiri).

Celakanya, kebanyakan orang butuh waktu yang relative lama untuk menyadari fenomena spiral menurun ini—bahkan tak sedikit yang tidak pernah menyadarinya hingga makin terpuruk. Semoga itu tidak akan pernah terjadi pada kita.

 

Apakah Arsip Anda Tergolong Rapi dan Efektif?

Meungkin pertanyaan ini terkesan mengintimidasi, tapi maksud saya bukan begitu. Justru saya sangat berharap mudah-mudahan arsip anda super rapi dan efektif.

Sekedar sharing. Sepanjang karir saya (dengan beragam tingkat kecapakan dan karakter staff), hanya 2 kali pernah punya staf yang arsipnya sungguh-sungguh rapi dan efektif, yaitu: seorang Accounts Payable Accountant (wanita) dan seorang Accounting & Financial Manager (laki-laki)—yang tadinya seorang Chief Accountant lalu memperoleh promosi jabatan untuk menggantikan posisi saya.

Selain kedua staf itu, ada saja masalahnya di arsip:

  • Arsip rapi (tidak ada kertas di meja) TETAPI tidak efekif (butuh waktu lama untuk menemukan arsip yang saya inginkan).
  • Yang mejanya seperti kapal pecah sudah pasti tidak efektif—terutama ketika mencari arsip transaksi di periode berbeda.
  • Ada juga yang arsip fisiknya rapi dan efektif, sayang asip digitalnya yang berantakan. Tak sedikit juga yang sebaliknya.

Oke. Ada semacam persepi keliru yang lumrah beredar di dunia kerja—termasuk di akuntansi, yaitu: “Orang yang mejanya penuh kertas adalah orang yang produktif, selalu sibuk”. Saya tidak melihat itu ada korelasinya. Yang ada, menurut saya, meja seperti kapal pecah karena overload pekerjaan atau memang karakter orangnya yang berantakan.

Ada juga anggapan yang menyebutkan bahwa, “meja berantakan bukan berarti pekerjaannya berantakan”. Yang ini saya tidak bantah. Karena diantara staf yang mejanya selalu berantakan, tak sedikit yang pekerjaannya selalu tereksekusi dengan rapi dan tuntas. Hanya saja, sekalilagi hanya saja, khusus di accounting arsip adalah vital—tidak boleh dikompensasikan dengan hal lain.

Bagaimana saya tahu file staf rapi atau tidak?

Jujur saja, saya tidak pernah memeriksa file semua orang satu-per-satu. Kerapian dan keefektifan arsip bisa saya ketahui dari 2 hal:

1. Kondisi meja saat mereka meninggalkan kantor – Mereka yang arsipnya rapi, bisa dilihat dari rapi-atau-tidaknya meja mereka saat pulang kerja. Saya memiliki kebiasaan memeriksa meja staf setiap pulang kerja. Walaupun meja saya selalu tanpa kertas, saya tidak menuntut setiap staf melakukan hal yang sama, karena itu bukan hal yang mudah. Kondisi meja yang ideal menurut saya: ada file-tray dimana tersimpan 1-5 lembar file di dalamnya dan stationary secukupnya. Kertas ini saya identifikasi sebagai file atas ‘masalah-belum-tuntas-perlu-followup-di-hari-berikutnya’. Selebihnya meja harus bersih hingga ke laci—semua file tersimpan rapi di folder (bukan di atas meja atau di dalam laci), sebagai indikasi bahwa masalahnya sudah tertangani hingga tuntas.

2. Kecepatan menyediakan arsip – Arsip rapi itu penting. Meja bersih itu penting—untuk kenyamanan kerja. Tetapi arsip rapi dan meja bersih saja, tidak cukup. Arsip harus efektif—mudah ditemukan saat diperlukan. Kecepatan menemukan arsip adalah super-penting di dunia kerja manapun. Terlebih-lebih di accounting, aktivitas menyediakan data/informasi adalah bagian dari pekerjaan yang terjadi setiap hari (jika tidak setiap jam). Seseorang (staff atau manager) yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menemukan sebuah file, adalah sangat tidak efisien, tugas utamanya banyak terbengkalai dan ini buruk. Menemukan file hanya langkah awal, jauh lebih penting adalah menyelesaikan pekerjaan dan memecahkan masalah. Mereka yang arsipnya rapi dan efektif hanya butuh waktu:

  • 3 menit untuk menyediakan file transaksi di periode berjalan; atau
  • 6 menit untuk file transaksi di periode berbeda (sebelumnya).

Mengapa 3 menit untuk periode berjalan dan 6 menit untuk periode sebelumnya?

  • 1 menit untuk query data base (di computer), biasanya dengan menelusuri data transaksi di accounting software. Misalnya: saya minta file nota#665 dari supplier PT. ABC. Anda masuk ke modul ‘accounts payable” lalu search nota#665; atau masuk ke vendor (supplier) list, lalu search PT. ABC, temukan nota#665. Dapatkan nomor transaksinya. Ini hanya butuh waktu 1 menit.
  • 2 atau 5 menit untuk mencari file fisik di folder/cabinet. Dengan menggunakan nomor transaksi yang sudah anda temukan di file digital/data base, anda langsung tahu dimana letak arsip fisiknya. Jika arsip fisik rapi, maka anda hanya butuh waktu 2 menit untuk menemukan file di periode berjalan atau 5 menit untuk file di periode sebelumnya.

Lebih dari itu, sudah merupakan indikasi bahwa arsip (entah yang digital atau fisik) pasti tidak beres, alias tidak efektif, bisa jadi berantakan. Staf yang butuh waktu lebih dari 5 menit untuk menyediakan file, biasanya saya datangi ke mejanya—sekalian melihat kenapa dia butuh waktu selama itu. Dan bisa saya pastikan, arsipnya tidak rapi, tidak efektif.

Yang memerlukan data/informasi/file tidak selalu atasan, bisa jadi rekan kerja atau diri-sendiri, dan itu bisa terjadi beberapakali dalam satu hari kerja. Sehingga, sekalilagi, pengarsipan yang rapi dan efektif adalah super-penting di accounting.

Nah, jika anda sudah bekerja coba hitung, berapa menit waktu yang anda butuhkan untuk menyediakan arsip file (fisik)? Dari sana anda bisa nilai sendiri seberapa rapi dan efektif arsip anda. Jika tidak cukup rapi dan efektif, saya ada tips yang mungkin bisa anda implementasikan sendiri.

 

Cara Mengelola Arsip Agar Rapi dan Efektif

Bagi anda yang arsipnya sudah rapi dan efektif, saya yakin pekerjaan utama anda pastinya cukup lancar. Bagi yang belum, berikut adalah cara mengelola arsip akuntansi agar rapi dan efektif, yang saya bagi menjadi 2 kelompok:

A. Arsip Digital (di komputer)

Jika menggunakan software akuntansi tertentu, jumlah arsip digital anda pastinya tidak terlalu banyak—karena semua data tersimpan dalam satu file database yang tertata secara otomatis mengikuti setting software yang digunakan. Yang penting anda perhatikan adalah:

  • Kenali dan buat diri anda terbiasa/familiar terhadap interface (antar-muka) setiap modul yang anda butuhkan. Misal: jika anda A/P Accountant, maka kuasai interface modul A/P (dan modul-modul terkait) dengan baik, sehingga anda bisa melakukan aktivitas di sana dengan sangat cepat, termasuk aktivitas mencari transaksi tertentu—entah dengan melakukan ‘drill-down’ atau menggunakan fasilitas ‘search’. Jika ada fasilitas short-cut, biasakan untuk menggunakannya.
  • Selalu menyertakan nomor/referensi transkasi saat input data—entah itu berupa nomor invoice, nomor PO, nomor check, dan lain sebagainya. Ini penting untuk memudahkan proses pencarian nantinya. Rata-rata software akuntansi dewasa ini sudah mengenerate nomor kode transaksi referensi secara otomatis, tetapi anda masih perlu memasukan nomor referensi yang tercantum di file kertasnya ke dalam system. Misal: nomor invoice/nota, nomor PO, nomor check, dan lain sebagainya. Adakalanya nota yang anda terima tanpa nomor, anda bisa membuat nomor sendiri yang penting berurut dan uniq (tidak boleh sama antara satu transaksi dengan transaksi lainnya), tulis di atas file kertasnya, lalu input.
  • Input data transaksi dalam format yang logis dan konsisten. Ini penting untuk memudahkan anda melakukan pencarian nantinya. Khususnya di keterangan transaksi (‘description’) dan di field ‘notes’. Misalnya: Anda biasa memasukan kode item, nama barang, dan spesifikasi. Maka, gunakan susunan itu secara konsisten. Jika ada nomor referensi tertentu (misal: No surat jalan, nomor AWB/BL, No PEB, No PIB, payment term, dan lain sebagainya) yang bisa anda ikut sertakan, maka sertakan juga secara konsisten.

Jika anda masih menggunakan spreadsheet (Ms Excel misalnya), maka mengelola arsip digital menjadi sedikit lebih sulit dibandingkan software akuntansi. Dalam kondisi ini anda bisa mengadopsi cara di atas. Hanya saja anda masih perlu menata file dan folder (di Ms Explorer misalnya) dengan teratur dan konsisten. Berikut beberapa hal yang perlu anda perhatikan:

  • Beri nama folder yang khas mendeskripsikan isi file yang tersimpan di dalamnya. Misal: Jika isinya file/data sales invoice, maka beri nama “SALES INVOICE”.
  • Beri nama file yang khas (berisi penanda tertentu) yang bisa dikenali dengan mudah. Misalnya: dengan menyertakan nomor referensi dan tanggal invoice “Inv005-121015” untuk invoice nomor 005 tertanggal 15 Okt 2012.
  • Jangan pernah mencampuradukan beberapa jenis file berbeda dalam satu folder (misalnya: vendor dengan customer dengan fixed asset, dll)—sekali anda melakukannya, maka lama-lama isi folder anda akan seperti hutan belantara. Usahakan satu folder satu jenis file.

Itu hanya beberapa tips dan contoh. Anda bisa menggunakan cara anda sendiri. Yang paling penting, semua itu anda lakukan untuk memudahkan proses pencarian jika sewaktu-waktu anda atau orang lain butuh.

B. Arsip Fisik (di atas Kertas)

Sampai saat ini kita (di akuntansi) masih banyak menggunakan file/dokumen di atas kertas (bukti fisik) untuk setiap transaksi. File di atas kertas masih dianggap sebagai satu-satunya bukti transaksi yang sah oleh pihak lain (kantor pajak, bank, bea cukai, customer, vendor, termasuk auditor). Untuk itu, anda butuh cara mengelola arsip fisik agar rapi dan efektif.

Berikut adalah 2 teknik penyusunan arsip fisik yang paling lumrah digunakan:

Beradasarkan Nama customer dan Nama Vendor – Teknik ini adalah teknik paling klasik yang banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan yang masih mengandalkan arsip fisik sepenuhnya, biasanya UKM atau toko-toko kecil. File di simpan di dalam folder-folder yang diberi label nama vendor dan customer—tak peduli transaksi itu masuk kea kun mana di dalam journal. Di dalam folder, kemudia file di susun secara berurutan berdasarkan tanggal. Misalnya: Setiap nota dari toko ABC di simpan ke dalam folder yang diberi label “TOKO ABC”. Setiap nota tagihan/invoice ke PT. Rajawali disimpan dalam folder yang diberi label “PT. RAJAWALI”.

Berdasarkan Jenis Akun – Teknik ini termasuk cukup banyak diadopsi, bahkan mungkin paling banyak. File disimpan ke dalam folder-folder yang diberi label nama akun. Di dalam folder, kemudia file di susun secara berurutan berdasarkan tanggal transaksi. Misal: Semua transaksi “Utang” (accounts payable) disimpan di sebuah folder yang diberi label “Utang”. Semua transaksi yang berhubungan dengan “fixed asset” di dalam folder yang diberi label “FIXED ASSETS”. Semua file berhubungan dengan PPh disimpan di dalam folder yang diberi nama “PPh”.

Mana yang lebih efektif?

Tergantung dari cara orang-orang yang membutuhkan data/informasi berkomunikasi dengan anda. Misalnya:

  • Jika atasan anda biasanya minta arsip dengan mengatakan “Tolong kasi saya nota dari PT. XYZ nomor 225”, maka teknik pertama menjadi lebih efektif dibandingkan dengan teknik kedua, karena anda bisa langsung membuka folder “PT. XYZ”, lalu mencari nomor invoice yang diminta.
  • Jika atasan anda biasanya minta arsip dengan mengatakan ‘Tolong carikan saya nota pembelian pensil tanggal 10 oktober 2012”, maka teknik kedua menjadi lebih efektif, karena anda bisa langsung membuka folder “OFFICE SUPPLIES” lalu mencari tanggal yang dimaksud.

Hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah ketika yang membutuhkan informasi atau data adalah pihak luar, misalnya: auditor dari kantor pajak atau auditor eksternal. Mereka jelas tidak tahu nama vendor. Oleh karenanya, mereka pasti minta data/informasi dengan merujuk nomor transaksi (mungkin plus nama akun). Untuk situasi ini, tentunya teknik kedua lebih efektif.

Teknik mana yang anda gunakan/sukai?” mungkin ada yang ingin bertanya seperti itu.

Saya tidak menggunakan teknik pertama maupun kedua. Saya lebih suka teknik pengarsipan yang sederhana: File disimpan di folder-folder yang diberi label nomor transaksi (tanpa nama akun atau nama vendor/customer). Misalnya: Folder “000001 s/d 000525” berisi arsip transaksi nomor 000001 sampai dengan 000525. Konsekwensinya:

  • Semua staf harus sangat familiar dengan fitur-fitur yang ada dalam software akuntansi yang digunakan. Staf baru harus diberikan training penggunaan software, hingga terbiasa.
  • Setiap fitur, dalam software akuntansi yang digunakan harus tersetup lengkap—sehingga bisa menampung data/informasi sampai ketingkat yang paling detail. Misalnya: vendor register harus diisi lengkap.
  • Setiap fitur harus bertautan (linked) dan bisa drill-down ke fitur lain yang terkait—sehingga setiap data bisa ditelusuri dari berbagai fitur. Misal: fitur “Accounts Payable” harus terhubung dengan fitur “Vendor Register” dan “Receipt of Goods”—sehingga untuk mencari nomor invoice/nota tertentu bisa darimanapun diantara ketiga fitur tersebut.

Mengapa demikian? Sebab setiap pencarian arsip file dimulai dengan melakukan penelusuran di dalam data base software, baru kemudian dilanjutkan dengan pencarian arsip fisik. Misalnya: Saya butuh slip bank pelunasan atas tagihan PT. XYZ dengan nomor invoice 252. AP Accountant tinggal masuk ke modul AP, lalu memasukan query invoice nomor 252, muncul data transaksi terkait dengan invoice 252 lengkap dengan nomor transaksi. Dengan menggunakan nomor transaksi AP Accountant bisa menemukan folder arsip fisiknya yang sudah disusun secara berurutan.

Tehnik manapun yang anda gunakan tidak masalah, sepanjang anda bisa disiplin dan punya cukup waktu untuk melakukan pengarsipan. Sebaliknya, jika anda tidak cukup disiplin atau tidak punya cukup waktu maka teknik apapun tidak akan efektif.

Saya percaya bahwa setiap accountant dan staff accounting, pada umumnya, cenderung disiplin. Hanya saja ketidakcapakan dalam mengelola pekerjaan dan waktulah yang sering menjadi masalah sesungguhnya.

Bagaimana caranya mengelola waktu antara menjalankan pekerjaan utama dan melakukan pengarsipan?

 

Cara Menjaga Agar Arsip Tetap Rapi Ditengah-tengah Kesibukan

Bagi yang sudah bekerja tentu sudah tahu bahwa, pekerjaan akuntansi itu sendiri sudah menguras waktu, energi dan perhatian—terus berlangsung seolah tak ada habisnya—sehingga aktivitas pengarsipan menjadi sering tertunda atau bahkan tak tersentuh samasekali. Dan, seperti sudah saya contohkan dalam kasus Mira, bisa berakibat buruk.

Jika anda mengalami situasi ini, anda butuh usaha ekstra untuk bisa menjaga agar arsip tetap rapi—tanpa menganggu pekerjaan utama. Berikut adalah teknik yang saya gunakan—dan mungkin bisa anda coba:

1. Jangan pernah membiarkan selembar kertaspun di atas meja. Caranya, sederhana;

(a). Jangan pernah mencetak apapun, kecuali akan langsung disimpan di folder atau dikirimkan ke pihak lain (supplier/pelanggan/departemen lain). Untuk keperluan sendiri anda bisa baca di layar monitor (komputer).

(b) Untuk kertas yang datangnya dari luar, diberikan oleh pihak lain (supplier, pelanggan, atasan, bawahan, rekan kerja, dll), apapun isinya, anda HANYA punya 5 pilihan untuk menyingkirkannya dari meja:

  • Kembalikan – Jika itu bukan untuk anda, tidak anda butuhkan, mengandung kesalahan, perlu anda review dan tandatangan. Lakukan dengan cepat. Jangan ditunda.
  • Lewatkan ke meja orang lain – Jika itu pekerjaan bersama, kerjakan porsi anda, selebihnya lewatkan ke meja orang yang harus mengerjakan berikutnya. Jika anda seorang atasan dan anda bisa mendelegasikan pekerjaan itu ke bawahan, segera lewatkan ke meja bawahan. Lakukan secepatnya. Jangan tunda.
  • Masukan ke dalam folder yang sesuai – Setelah tindakan tertentu (hitung/input ke system/minimal dibaca), segera masukan ke dalam folder yang sesuai jika memang perlu diarsipkan. Lakukan dengan cepat. Jangan ditunda.
  • Masukan ke dalam tray di atas meja – Jika anda perlu waktu lebih dari 5 menit untuk melakukan tindaklanjut, maka masukan kertas tersebut, untuk sementara ke dalam tray yang mungkin ada di ujung meja anda. Jaga, jangan sampai tray ini terisi lebih dari 5 file. Begitu tindak lanjut tuntas dilakukan, maka anda bisa menyimpannya ke dalam folder (arsip), atau di kembalika, atau dilewatkan ke meja orang lain.
  • Buang – Jika tak masuk ke dalam empat kategori di atas, pilihanyang tersisa hanya satu, yaitu: buang ke tong sampah. Selebaran, brosur, fliyer, dan kertas-kertas yang samasekali tidak ada hubungannya dengan anda, lempar ke tong sampah begitu tiba di meja anda.

Begitulah cara saya menjaga agar meja tetap bersih—tak pernah berisi kertas selembarpun. Jika bisa disiplin dan bersikap tegas, saya yakin andapun bisa melakukan itu dengan cepat, disela-sela kesibukan menjalankan pekerjaan utama.

2. Cari waktu khusus untuk menyingkirkan kertas menumpuk

Jika terlajur banyak kertas di meja, mau tidak mau anda perlu mencari waktu khusus untuk menyingkirkannya—supaya tidak menganggu pekerjaan utama. Saran saya, lakukan pada saat tidak ada banyak orang di kantor. Misalnya:

  • Jam istirahat – Jika volumenya tidak terlalu banyak, anda bisa memanfaatkan waktu istirahat selama setengah jam. Instead of Twitteran setelah jam makan, gunakan untuk menyingkirkan kertas-kertas.
  • Malam hari – Jika anda biasa jam 5-tenggo, anda bisa minta ijin pulang terlambat—khusus untuk membersihkan meja dan membereska file-file—tentunya tidak dibayar (tidak dihitung lembur). Usahakan jangan berhenti sampai selesai.
  • Akhir pekan – Jika volume arsip yang berantakan sudah sangat banyak, mungkin ada baiknya dibereskan di akhir pekan. Datang kantor barang setengah hari, khusus fokus untuk membereska file-file dan membersihkan meja—jangan sampai tergoda untuk melakukan aktivitas lain: janga buka email, jangan buka browser—terutama sekali jangan buka media sosial (Facebook, Twitter, GPlus, dan sejenisnya).

Setelah arsip beres dan meja sudah bersih, anda bisa mulai menerapkan cara yang pertama di atas.

Kuncinya, menurut saya, adalah disiplin dan tegas. Terutama tegas terhadap diri-sendiri, adalah sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Kebanyakan dari kita cenderung merasa “semua kertas di atas meja seolah-olah penting”. Jika ini kesulitan yang anda hadapi, mungkin butuh waktu untuk membiasakan diri. Dengan usaha yang terus-menerus saya yakin anda bisa. Selamat mencoba. Semoga sukses.

Untuk menjadi seorang ahli  akuntansi komputer, tidak perlu kita harus menguasai berbagai macam bahasa program,karena sekarang ini sudah banyak sekali perangkat – perangkat komputer yang kita bisa jadikan sebagai alat untuk membuat  akuntansi komputer, seperti Excel, MS Acces, google docs, jotform.me, mysql dan masih banyak lagi, yang terpenting dalam pembuatan  akuntansi komputer adalah kita memahami dengan benar dan menyeluruh mengenai proses akuntansi yang berlaku, dengan tetap kita harus melakukan evaluasi atas sistem  akuntansi komputer yang kita buat.

ini adalah beberapa kelebihan Akuntansi komputer.